Mengapa Taliban dan IS saling berperang? Apakah ini disebut peperangan dengan sesama muslim?
Tentu tidak, sebab Taliban dan IS sejatinya berbeda akidah dan manhaj kendati sama² menisbatkan diri kepada Islam.
Taliban mengusung akidah nasionalisme dan menginginkan tegaknya negara kebangsaan, adapun IS berasaskan tauhid, dan bercita-cita menghancurkan berhala nasionalisme dan mengembalikan kaum muslimin dalam naungan Khilafah Rasyidah.
Untuk lebih jelas, mari kita bandingkan dan bedah secara langsung perkataan pemimpin Taliban dan IS secara komparatif.
Mulla Umar berkata:
“Imarah Islamiyyah ingin menjalin hubungan timbal balik dengan seluruh dunia, terutama “Dunia Islam” dan negara-negara tetangga, dalam suhu saling menghormati dan kepentingan² timbal balik sesuai panduan ajaran Islam dan kepentingan² nasional kami….
dan ia tidak ingin ikut campur tangan dalam urusan-urusan negara lain, sebagaimana ia tidak memperkenankan siapapun untuk ikut campur tangan di dalam urusan-urusannya…”
(Bayaan Bi Munaasabah Huluul ‘Iedil Fithri Al Mubaarak Tahun 1433H)
Juru Bicara Imarah Afghanistan berkata:
“Imarah Islamiyyah sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab, menenangkan semua pihak bahwa tidak akan terjadi gangguan apapun dari Afghanistan ke negara manapun….”
“…..di kawasan ini atau ke negera tetangga, kami menuntut kenyamanan bagi negera kami dan bagi kawasan.” (Tashriihaat Al Mutaddits Bismi Al Imaarah Haula Qalaqi Ba’dli Duwalil Manthiqah).
Mullah Umar berkata :
“Kami akan menjaga hubungan-hubungan baik dengan semua pihak yang menghormati Afghanistan sebagai negara islam yang berdaulat lagi merdeka”
(Bayaan Bi Munaasabah ‘Iedil Adlhaa Al Mubaarak Tahun 1433H).
Dalam UUD Imarah Islam Afghanistan disebutkan :
“Pasal 53: Amirul Mu’minin itu adalah laki-laki muslim dan menganut madzhab fiqih hanafiy dan memiliki kewarganegaraan Afghanistan, serta ia itu telah dilahirkan dari kedua orang tua yang asli Afghanistan”
Maka dari segelintir pernyataan² yang keluar dr mulut pemimpin mereka sendiri, jelas sudah perjuangan Taliban dan IIA adalah untuk sepetak tanah dan kebangsaan Afghanistan. Nasionalisme yang amat kental.
Beberapa kali dinyatakan bahwa IIA tidak mau mencampuri urusan negara tetangga selama mereka tidak mengusik kedaulatan bangsa Afghan. Artinya bahwa Taliban tidak ada urusan dengan pemerintah India yang secara biadab menindas muslim khususnya di Kashmir
Tidak punya urusan juga dengan tetangganya Rusia yang memerangi Muslim Kaukasus, dengan Rafidhah Iran musuh ahlussunnah, Tiongkok yang menindas muslim Uyghur dan pemerintah murtad Pakistan yang menjadi kaki tangan salibis Amerika.
Bagaimana mungkin anda berharap pembebasan tanah-tanah kaum muslimin dari tangan murtaddin, salibis, komunis dan Rafidhah dari mereka yang terkungkung ideologi nasionalisme seperti ini?
Itulah hakikat Taliban, berjuang atas dasar nasionalisme, mereka berjuang untuk menegakkan kedaulatan afghan, dengan lingkup batas wilayah warisan kolonial dan PBB. Bukan untuk membebaskan tanah² kaum muslimin.
Belajar dari kegagalan jihad Afghanistan, dulu mindset yang berkembang yang penting bersatu dulu melawan Soviet, apapun manhaj, bendera dan ideologinya. Selama masih berteriak takbir dan memakai baju Islam maka tak perlu dipermasalahkan
Alhasil, Soviet terusir, tp persatuan diatas pondasi yang rapuh, dan paling menonjol adalah adanya paham nasionalisme dan sufisme dikalangan ‘mujahidin’ shg jihad Afghan tak berhasil memunculkan Islam. Hanya perpecahan dan persengketaan.
Maka pada jihad modern kini, berawal dari Jihad Irak dan Syam. Al Wala dan bara’ dikokohkan, tauhid dimurnikan dan barisan dibersihkan dari kontaminasi kekufuran. Shg persatuan harus didasari akidah yang benar. Bukan sekedar hanya karena sama² teriak takbir dan atas nama Islam
Mullah Umar berkata yang semakin mengukuhkan identitas Taliban dan IIA diatas nasionalisme :
“Bahwa kami tidak berpikir untuk memonopoli kekuasaan dan kami tidak menginginkan terjadinya perang saudara setelah kepergian para penjajah….”
(Bayan Bi Munasabah ‘Idil Adlha Al Mubarak 1433 H).
Artinya, menurut pemimpin Taliban dan IIA itu menunjukkan bahwa negeri Afghanistan hanya untuk bangsa Afghan itu sendiri.
Bandingkan perkataan Mullah Umar dengan Syaikh Abu Bakr Ab Baghdadi ini :
**”Maka marilah kalian semua bergabung ke Daulah kalian wahai kaum muslimin, marilah, karena Suriah itu bukan untuk orang-orang Suriah dan Iraq itu bukan untuk orang-orang Iraq….”
“….Sesungguhnya bumi itu milik Allah yang akan Dia wariskan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dari kalangan hamba-hamba-Nya, dan nasib akhir yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.”(Risalah Ilal Mujahidin Wal Ummah Al Islamiyyah Fi Syahri Ramadlan).
Pelopor Daulah Islam Irak Abu Mush’ab Az Zarqawy berkata :
“Kami tidak berjihad untuk segenggam tanah atau batas khayalan yang dibuat oleh Sykes dan Picot. Begitu juga kami tidak berjihad agar thaghut Barat menggantikan posisi thaghut Arab….”
“…..sebaliknya jihad kami lebih mulia dan lebih tinggi. Kami berjihad sehingga kalimat Allah menjadi yang tertinggi dan agar agama menjadi milik Allah seluruhnya.
“Dan perangilah mereka sampai tidak ada fitnah dan (sampai) agama, seluruhnya, untuk Allah” (Al-Anfal: 39).
“Setiap orang yang menentang tujuan ini atau menghalang-halangi tujuan ini adalah musuh bagi kami dan menjadi sasaran bagi pedang-pedang kami, siapapun namanya dan keturunannya. Kami memiliki agama yang diturunkan oleh Allah sebagai timbangan dan pemutus perkara….”
“….Muslim Amerika adalah saudara yang kami cintai. Dan orang kafir Arab adalah musuh yang kami benci walaupun kami dan dia berasal dari Rahim yang sama.”
(Al-Mauqif asy-Syar’i min Hukumat Karazay al-‘Iraq)
Syaikh Usamah rahimahullah peletak pondasi Daulah berkata :
“Cita-cita kami adalah umat ini bersepakat terhadap satu kalimat yang sama (tauhid) dibawah Kitab Rabb dan Sunnah Rasul-Nya….”
“Dan umat ini bergerak utk kebangkitan Khilafah Islamiyyah bersama umat islam secara umum yg mana Rasulullah telah memberi kabar gembira kepada kita dlm hadits shahih bhw khilafah rasyidah itu akan kembali hadir dgn izin Allah” (Wawancara dgn wartawan Al Jazeera, Taysir Alouni)
Dan beliau rahimahullah berkata:
“Wahai para pemuda generasi ini, tidak ada jalan selain jihad untuk membebaskan Palestina dan Al Aqsha, serta pengembalian khilafah Ar Rasyidah dengan izin Allah” (Risalah Ilal Ummah Al Islamiyyah)
Itulah persimpangan prinsip antara Taliban dan IS hanya di satu sisi, masih banyak dari sisi² yang lain, seperti pengakuan Taliban kepada thagut Arab, Barat dan PBB. Jadi tidak akan pernah bersatu selamanya minyak dan air. Antara manhaj IS dan Taliban.
Wallahua’lam
Sekarang telah terang bhw otak ku adalah korban omong kosong hillary
LikeLike
Wah , bagus deh kalau mengaku . Semoga segera sadar dan bertaubat ya
LikeLike