Bismillah…
(Teladan Para Salaf dalam menghadapi Wabaah. Bagian Pertama)
Al Imam adz Dzahabiy asy Syafiiy Rahimahullah menuliskan dalam ‘ Tarikh-nya’:
فيها كان طاعون الجارف بالبصرۃ قال: المداٸني: حدثنی من أدرك الجارف قال: كان ثلاثۃ ايام, فمات فيها نحو مٸتي ألف نفس, وقال غيرۃ: مات فی الطاعون الجارف ل أنس من أو لاده وأولادهم سبعون نفسا
Di tahun ini (69H) telah terjadi serangan Tho’un al Jaarif (yang cepat datang dan cepat pergi), yang menjangkiti al Bashrah-Iraq. Al Mada’iniy berkata: “orang yang mengetahui hal itu telah memceritakan kepadaku ia berkata: (Tho’un) itu hanya terjadi tiga hari dan telah membunuh sekitar 200 ribu orang. Yang lain berkata: dalam serangan wabaah Tho’un yang singkat itu telah mati anak anak dan cucu Anas bin Maalik 70 orang
ومات لصدقۃ المازنی فی يوم واحد سبعۃ بنين فقال: اللهم انی مسلم مسلم
Tujuh anak Shodaqoh al Maaziniy ikut meninggal dalam satu hari, lalu ia berkata: Allahumma inniy muslim, muslim (pasrah, pasrah)
فلما كان يوم الجمعۃ بقی يصفر لم يحضر للصلاۃ سوی سبعۃ رجل و امرأۃ, فقال الخطيب: ” ما فعلك الوجوه?. فقال المراۃ: تحت التواب”.
Lalu pada hari Jum’at menjadi lengang, tidaklah yang hadir sholat hanya tersisa tujuh laki laki dan perempuan: sang Khothib Jum’at (Gubernur Bashrah) berkata: ‘mana muka muka yang biasa sholat (di Shaf depan) itu?. si wanita menyahut: “sudah dibawah tanah (dikubur)
(Duwalal Islam, Juz 01 no 69 hlm 62-63)
Beberapa petunjuk dan penjelasan:
Tho’un ada beberapa macam, diantaranya: Tho’un Amawas (17-18 H), Tho’un Jaarif yang berlangsung singkat, 3 hari, Tho’un Fatayat, yang menyerang perempuan dan yang lain.
Pada kisah itu, Tho’un menyerang dengan sangat cepat dan membunuh ratusan ribu jiwa dalam satu kali serangan.
Para salaf tetap menegakan Sholat jumat atas muslimin yang tersisa sekalipun hanya ada tujuh orang ma’mun termasuk wanita.
Ini bantahan bagi fatwa yang menguzur pelaksanaan sholat jumat dan menutup masjid dengan sebab ikut ikutan takut tertular wabah, padahal semua telah ditakdirkan dan kehendak Allah. Kaum Muslimin masih tetap tegar dengan cobaan tho’un ini sebagaimana pasrahnya para Salaf di Bashrah.
Kelak setelah Tho’un lni berlalu, akan lahir generasi ulama tabiin rabbaniyyin yang menggantikan generasi yang wafat diantaranya: Ayyub Saktiyaaniy, Tsumamah bin Anas bin Maalik dan yang seangkatan dengan mereka.
Bismillah…
(Teladan para Salaf dalam menghadapi Wabaah…Bag. 2)
Disebut Tho’un karena sifatnya cepat, singkat dan mematikan. Tho’un Amawwas misalnya, periode serangannya sekitar 2 atau 3 bulan (akhir tahun 17 H s.d awal 18 H). Kata al Waqidiy, korbannya berkisar antara 25 ribu s.d 35 ribu muslimin di asy Syams; sebagaimana dikehendaki Allah.
Tho’un Jaarif, yang melanda Bashrah Iraq. Periode serangannya hanya tiga hari. Satu hari Tho’un ini membunuh sekitar 70 ribuan atau sekitar 200 ribu jiwa hanya dalam tempo 3 hari dan setelah itu selesai.
Adapun Wabaah Corona saat ini, telah hampir lima bulan, semakin berlarut larut, makin besar dan meluas. Maka, ini dari sisi penyebarannya, melebihi Tho’un. Tho’un adalah rahmat bagi Umat ini sebagaimana terjadi pada para sahabat dan tabiin Rodhiallahuanhum ajmain.
Oleh karena itu, jika suatu wabaah daya sebarnya semakin luas dan daya mematikannya semakin besar, para Salaf diera Abbasiyyah dulu tidak menjadikan Rumah Sakit (Bamaristan) sebagai tempat penyembuhannya, namun Masjid-lah tempat memohon kepada Allah agar Ia menerima taubat dari para hamba Nya, dan berkenan dengan belas kasih-Nya untuk sudi mengangkat adzab Nya.
Laen orang dulu, laen orang sekarang, masjid ditutup, amal ma’ruf nahi munkar tidak ditegakkan, malah bangun rumah sakit baru, bangun posko, bangun yang macem macem.
Maka dari itu, adzab ini akan semakin besar sebab cara pandang dien kalian memang aneh.
(Bersambung…nanti saya postkan yg dari Ibnu Jauziy)
Bismillah…
(Teladan dari para Salaf dalam menghadapi Wabah…Bag. 3)
Tahun 17 H, Khalifah Umar sudah berkeinginan menuju ke Iraq atau asy Syams, namun datang khabar bahwa wilayah asy Syams sedang mewabah Tho’un. Umarpun berkirim surat kepada Amir Umaroh (Gubernur Jenderal Militer) Syams yang membawahi semua wilayah asy Syams termasuk Mesir.
Surat Umar meminta kaum muslimin keluar menyingkir dari wabah namun dibalas Abu Ubaidah bahwa ia akan bersama pasukannya di Syams; dalam suratnya Abu Ubaidah menyebutkan hadits Nabi yang melarang keluar dari Negeri yang terdampak wabaah. Lalu Umar memerintahkan Abu Ubaidah mengeser pasukannya kedataran tinggi di Syams yang dekat sumber air bersih dan memiliki padang rumput hijau. Maka Amir Abu Ubaidahpun berpidato dihadapan pasukannya dan disinilah beliau terkena tho’un itu.
Lalu Abu Ubaidah memerintahkan Abu Musa membawa pasukan pergi ke dataran tinggi Fihl dekat Baisan yakni Ghaur asy Syams di Yordania.
Abu Ubaidah dan pasukannya bermukim disini dan beliau dirawat disini. Selama dirawat, beberapa kaum muslimin menjenguk beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al Bukhoriy dalam ‘al Adab al Mufrod’ kisah para sahabat dan anggota pasukan yang membesuk Abu Ubaidah.
Telah mengabarkan kepada kami Ishaaq bin Al Alaa, telah mengabarkan kepada kami Amru al Harits, telah mengabarkan kepada kami Muhammad adz Zubaidiy, ia berkata:
حدثنا سليمان بن عامر ان غطيرف بن الحارث اخبره ان رجلا اتی ابا عبيدۃ بن الجداح, وهو وجع, فقال: “كيف امسی أجر الامير? فقال: هل تدرون فيها أنفتقم قی سبيل الله, و استنفق لكم, ثم عد أداۃ الراۃ الرجل كلها حتی بلغ عذار البرذون, یلكن هذا الوصب الذي يصليبكم في أجسادكم, يکفر الله به من خطايكم.
Sulaiyman bin Amir telah mengabarkan kepada kami bahwa Ghuthorif bin al Haarits telah mengabarkan bahwa seseorang telah menemui Abu Ubaidah bin al Jarroh saat dia sakit, dia (rijaal) berkata: bagaimana pahala seorang Amir?. Abu Ubaidah menjawab: apakah kalian tidak tahu atas amal apa kalian diberi pahala?. ia (rijaal) berkata: atas sesuatu yang tidak kita sukai yang menimpa kita, lalu ia (tidak itu saja) kalian diberi pahala atas apa yang yang kalian infakkan dijalan Allah, yang dibelanjakan dijalan Allah, lalu Abu Ubaidah menghitung hitung dan melihat kelengkapan pelana kudanya, tak terkecuali tali kekang kuda birzaun (kuda beban), lalu berkata: namun juga dengan sebab sakit, letih, lemah yang menimpa kalian, Allah mengampuni dosa dosa kalian”.
(‘al Adab al Mufrod liy al Bukhoriy Juz 04 , Bab. Kaffarah bagi orang sakit no 226. semua rowinya tsiqah, kecuali Ishaaq bin al Alaa, dia guru al Bukhoriy, shaduuq, namun banyak keliru)
Catatan: “Rijaal”, pada atsar al Bukhoriy itu adalah Abu Musa al Asy’ariy dan juga beberapa kawann-kawannya, wallahu’alam.
Beberapa pelajaran dari berjangkitnya wabaah/thoun,:
Ada kalanya seseorang itu tidak atau belum sampai padanya hadits hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wassallam, sebagaimana Abu Ubaidah menjelaskan kepada Umar larangan Nabi keluar dari zona wabah…
Seorang pemimpin itu disaat saat genting maka dia akan bersama pasukannya, tidak boleh dia mementingkan diri sendiri…
Bolehnya bergeser ketempat yang lebih baik untuk menjamin kebutuhan sebagaimana Umar memerintahkan Abu Ubaidah mencari lokasi yang tinggi di wilayah terdampak untuk menjamin kebutuhan air bersih dan daerah hijau (asal masih dalam zona wabaah)…
Sesama orang yang dikarantina, boleh saling berkunjung, menjenguk orang sakit, saling meneguhkan, saling berwasiat, saling menyampaikan al ilmu, sebagaimana kisah yang diriwayatkan al Imam al Bukhoriy…
Thalabul ilmu tetap terjadi sesama orang yang dikaratina dan tidak terputus karena Islam agama akherat, beramal dan beribadah dan mencari ridha Allah adalah prioritas…
Abu Musa al Asy’ariy Rodhiallahuanhu, bahwa beliau telah bersama dan ada disisi Abu Ubaidah Rodhiallahuanhu, dan tidak terkena Tho’un sampai ia menjadi hakim abitrase peperangan Siffin di pihak Khalifah Aliy Rodhiallahuanhu. Maka ini menunjukan, Tho’un tidak menulari seseorang yang tidak dikehendaki Allah Ta’ala…
Wallahu’ Taala Alam…
(Bersambung…)
Bismillah…
Teladan dari para Salaf dalam menghadapi wabaah…bagian 4)
Ketika Amir Umaroh Abu Ubaidah bin al Jarroh merasakan sakitnya semakin parah. Beliau berwasiat sebagai penggantinya adalah Muadz bin al Jabal. Abu Umar Ibnu Abdil Barr al Malikiy menuliskan:
فلما استخلف عمر ولی أنا عبيدۃ, و فتح الله عليه الشامت, وولی يزيد بن أبی سفيان علی فلسطين وناحيتها, ثم لما مات أبو عبيدۃ اسنخلف معاذ بن جبل, ومات معاذ فاستخلف يزيد بن أبو سفيان, و مات يزيد, فاستخلف أخاه معاويۃ, وكان موت هٸولاٸ کلهم فی طاعون عمواس سنۃ ثمان عشرۃ
Umar bin Khoththob menunjuk Abu Ubaidah bin al Jarroh sebagai wakil-nya untuk Syams, maka Allah-pun menaklukan asy Syams kepadanya; lalu Yaziyd bin Abu Sufyan ditunjuk selaku wali Palestina, dan diapun tinggal disini, kemudian Abu Ubaidah wafat, dan yang menggantikannya adalah Mu’adz bin Jabal (sesuai wasiatnya), Mu’adz-pun wafat dan yang menggantikannya adalah Yaziyd bin Abu Sufyan, Yaziyd-pun wafat, maka penggantinya adalah saudaranya Mua’wiyah bin Abu Sufyan. Maka mereka yang wafat disini semuanya terkena wabaah Tho’un Amwwas ditahun 18 H.
(‘al Istiy’ab fiy Asmaa al Ashaab, Juz 02 no 2784 pada Biografi Yaziyd bin Mua’wiyah hlm 347-348)
Pada ‘al Bidayah wa an Nihayah’, al Imam Ibnu Katsyir menyebutkan bahwa para sahabat yang terkena Tho’un; mereka saling berwasiat dalam urusan kepemimpinan:
ولما مات كان قد استخلف أخاه معاويۃ علی دمشق, فأمضی عمر بن الخطاب له ذلك رضیی الله عنه.
Ketika Yaziyd (hendak wafat) dia berwasiat meminta saudaranya Mu’awiyah menggantikan posisinya sebagai wali Damaskus, lalu Umar bin Khaththab menetapkan Jabatan itu kepada (Mu’awiyah) Rodhiallahuanhu.
(al Bidayah, Juz 10 hlm 82-83)
Aku katakan: begitu juga Abu Ubaidah yang berwasiat kepada Muadz dan seterusnya sebelum sampai giliran Yaziyd.
Beberapa pelajaran:
Saling berwasiat dalam perkara kebaikan dan kemaslahatan Umat.
Beberapa Syubuhat:
Dalam ‘al Bidayah’, al Imam Ibnu Katsyir menukilkan atsar dari riwayat Ibnu Ishaaq dari Aban bin Shalih dari Syahr bin Hausyab al Homshiy dari Rabaah, yang pada riwayat ini Rabaah menyatakan kepada Syahr bahwa ketika Muadz wafat yang menggantikannya adalah Amru bin al Ash, maka ini tidak shahih dan keliru sebagaimana telah disebutkan oleh mayoritas ulama. Adapun riwayat Ibnu Ishaaq:
…فلما مات استخلف علی الناس عمرو بن العاس, فقام خظيبا, فقال: “أيها النا, ان هذا الوجع هذا اذا فانما يشتعل اشتعال النار, فتحصنوا منه الجبال.
Lalu (saat Muadz wafat) Amru bin al Ash (tampil) menggantikan posisinya atas manusia, dia berdiri dan berkhotbah ditengah mereka: “wahai manusia, sesungguhnya jika penyakit ini mewabaah, maka ia menyala nyala laksana nyala api, maka dari itu berlindunglah kalian di bukit bukit…”
(Tarikh Ibnu Jarir ath Thabariy Juz 4 hlm 61-62)
(al Bidayah wa an Nihayah Juz 10 hlm 42-43)
Maka atas tindakan sahabat Amru bin al Ash yang mengambil alih kepemimpinan asy Syams (tanpa musyawarah dengan para komandan sahabat senior) lalu memerintahkan manusia untuk berlindung di bukit bukit; maka hal ini mendapat tantangan dan penolakan keras dari para sahabat senior, diantaranya dari Abu Wail al Hudzailiy dan Syurahbil bin Hasanah Rodhiallahuanhu. Syurahbil adalah Komandan Pasukan Muslimin untuk Jordania sekaligus wakil Abu Ubaidah. Sementara Amru adalah Komandan Pasukan yang ditugaskan dalam ekspedisi Futuhat Mesir yang berkedudukan di Ain asy Syams (Fustath).
Orang orang yang tidak setuju dengan tindakan Amru lalu mengadukan perihal ini kepada Syurahbil:
حدثنا عفان حدثنا شعبۃ قال: يزيد بن خمير اخبرنی قال سمعت شرحبيل ابن شفعۃ يحدث عن عمرو بن العاص ان الطاعون وقع فقال عمرو بن العاص:”انه رجس, فتفرقوا.
Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dia berkata: Yaziyd bin Khumaiyr telah mengabarkanku, dia berkata: aku telah menyimak Syurahbil bin Syuf’ah yang menceritakan dari Amru bin al Ash, bahwa Tho’un telah merajalela, Amru bin al Ash berkata: Tho’un adalah kotoran, maka berpencarlah kalian darinya”.
Reaksi sahabat Syurahbil:
فبلغ ذلك شرحبيل ابن حسنۃ قال: “فغضب فجاٸ و هو يجر ثوبه معلق نعله بيده وفال: صحبت رسو ل الله صلی عليه و سلم و عمرو أضل من حمار أهله…
Maka perkara Amru ini sampai ke telinga Syurahbil bin Hasanah, dia marah besar dan segera bergegas menyeret kainnya dan menenteng sandalnya sambil berkata: “Aku telah berteman dengan Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassallam, Amru itu lebih sesat dari keledai peliharaan keluarganya…
(Musnad Imam Ahmad dari Musnad Syammiyyin no 17682 hlm 483. Dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir dan al Haitsamiy dalam al Majma).
Pada riwayat Syu’bah:
قال شرحبيل ابن حسنۃ: “انی قد صحبت رسول الله صلی الله عليه و سلم, و عمرو أضل من جمل أهله وربما قال شعبۃ أضل من بعير أهله وانه قال: انها رحمۃ ربكم ودعوۃ نبيكم و موت الصاليحين قبلكم فاجتمعوا و لا تفرقوا عنه”
Maka Syurahbil bin Hasanah berkata: sesungguhnya aku telah berteman dengan Rosulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, dan Amru itu lebih sesat dari Unta milik keluarganya, atau sepertinya Syu’bah berkata: lebih sesat dari Ba’ir (Unta) milik keluarganya. Syurahbil berkata: sesungguhnya Tho’un itu adalah rahmat dari Rabb kalian, do’a Nabi kalian dan sebab wafatnya orang orang shalih sebelum kalian dan janganlah kalian lari berpencar darinya.
قال: “فبلغ ذلك عمرو بن العاص. فقال: صدق”.
Perkataan Syurahbil itu sampai kepada Amru, lalu dia berkata: SYURAHBIL BENAR.
(Musnad Imam Ahmad dari Musnad Syammiyin no 17684. Dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
Beberapa pelajaran:
Pada sahabat yang ada di Syams telah berwasiat, sebagaimana telah disebutkan diatas.
Yang benar wasiat Mu’adz saat beliau hendak wafat, yang menggantikannyanya selaku ‘Amir Umaroh’ (Gubernur Jenderal) adalah Yaziyd bin Mua’wiyah, dan Yazid-pun berangkat dari Palestina menuju Damaskus.
Saat sahabat Mu’adz wafat, tampilah di mimbar Komandan Mesir sahabat Amru bin al Ash yang dengan ijtihad-nya berusaha menguasai keadaan, lalu beliau berkhotbah mengajak manusia pergi berlindung dibukit bukit; disebabkan dalam pandangan beliau Tho’un telah mewabah.
Andai saja saja sahabat Muadz bin Jabal telah berwasiat Amru selaku Amir Umaroh saat itu, tentulah para sahabat senior yang lebih dahulu berislam semisal Syurahbil bin Hasanah tidak akan memprotes tidakan Amru; sebagaimana muslimin ridha dengan Yaziyd bin Abu Sufyan dan saudaranya Mu’awiyah yang keduanya masuk Islam pada Fathul Makkah.
Sahabat Amru hanya memerintahkan pergi berpencar kebukit bukit dan bukan keluar dari asy Syams.
Pada kondisi ini, manusia terbagi dua kelompok. Satu kelompok mengikuti sahabat Amru.
Satu kelompok lagi para sahabat senior semisal Abu Wail al Huzaaliy dan Panglima dan Wali Jordania Syuhrabil bin Hasanah serta manusia yang mengikuti mereka. Mereka berpegang kepada hadits dan petunjuk Rosulullah mengenai ketetapan rahmat Allah mengenai Tho’un. Ishaa Allah inilah yang benar dan juga dibenarkan sahabat Amru bin al Ash.
Kemungkinan besar ijtihad Amru ini merupakan kelanjutan dari apa yang dilakukan Abu Ubaidah yang lebih dahulu pergi menyingkir kedataran tinggi di al Ghaur sebagaimana perintah Umar kepadanya sebelum beliau wafat.
Ijtihad sahabat Amru dikarenakan beliau belum mendengar hadits Nabi mengenai tata cara menghadapi Tho’un dan ketika sahabat Syurahbil memarahinya, Amru-pun ruju dan membenarkannya (lihat: riwayat Imam Ahmad).
Sisa lain dari tindakan Amru bin al Ash yang mengambil alih kepemimpinan lalu mengajak manusia, dengan tidak bermusyawarah dahulu dengan para sahabat senior dan para komandan pasukan. Maka ini juga yang ditentang oleh Syurahbil, wallahu’alam.
Senioritas dalam pengambilan keputusan tetap harus persetujuan syura.
Sahabat Amru bin al a Ash adalah sosok Panglima ats Tsuqur, ahli strategi perang dan golongan kaum cerdik-nya Bangsa Arab; beliau saat itu sedang berusaha membuka Mesir; dengan pertimbangan sisi inilah beliau berusaha melindungi “punggung kaum muslimin”, sebab Romawi berkonsolidasi di Alexandria dan mereka mengetahui keadaan kesulitan kaum muslimin.
Dalam masa wabaah seperti kisah ini, yang diutamakan mendahulukan petunjuk Rosulullah dan menjadikannya pedoman disaat wabaah. Adapun perintah untuk menyingkir kebukit bukit, sebenarnya pada saat itu ada sisi pertimbangan untuk menjaga kondisi tentara selama berlangsungnya peperangan. Inilah salah satu pertimbangan kenapa Khalifah Umar memerintahkan Abu Ubaidah dan pasukannnya merelokasi diri kebukit/dataran tinggi agar barisan formasi para tentara tidak rusak dan diketahui musuh.
Maka ketika tindakan sahabat Amru bin al Ash ini diadukan kepada Khalifah Umar, maka beliau tidak marah.
Rodhiallahuanhum ajmain.
Wallahu’ Ta’ala alam.
Maraji:
Al Bidayah wa an Nihayah. Daar al Hajar-Saudi. Tahqqiq Dr. Abdullah at Turkiy. Cetakan Pertama 1418 H/1998 M.
Musnad Imam Ahmad Cet. Daar al Hadits Kairo. “شرحه وصنع فهارسه” Syaikh Muhammad Syaakir. Cetakan Pertama 1416 H/1995 M.
Al Isy’tiaab fiy Asmaa as Shohaabaah liy Ibnu Abdil Barr al Malikiy. Daar al Fikr Libanon. Cet. Pertama 1426-1427 H/2006 M.
#ben
Bismillah…
(Teladan dari para Salaf ketika menghadapi Wabaah…Bagian 5)
*Obat Tho’un dan Wabaah*
Rosulullah Shalallahu’alaihi wassallam telah bersabda mengenai akan ada Tho’un dan Wabaah di akhir jaman beserta penyebabnya. al Imam Ibnu Majaah telah meriwayatkan mengenai hal ini dalam ‘Sunan-nya’:
يا معشر المهاجرين, خمس خصال اذا ابتليتم بهن, واعوذبالله ترركم هن: لم تظهر الفا حشۃ فی قوم قط حتی يعلنوا بها الا فيهم الطاعون و الاوجاع التی لم تكن مضت فی اسلافيهم الذين مضوا…
Wahai sekalian muhaajirin, ada lima hal yang bila kalian diuji karena aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak mengalami hal itu: tidaklah muncul suatu perbuatan keji dari suatu kaum sampai mereka memperlihatkan (kekejian) secara terang terangan kecuali akan menyebar pada mereka Tho’un dan bermacam penyakit yang tidak pernah melanda generasi generasi sebelum mereka…(sampai selesai hadits)
(Sunan Ibnu Majaah no 4019, Shahih Ibnu Majaah no 3246. dari Ibnu Umar dari Nabi Shalallahu Alaihi Wassallam)
Aku katakan:
Hadits ini menunjukan jika manusia sudah terang terangan dan tidak punya malu lagi berbuat kekejian, maka tunggulah akan terjadi ditengah tengah mereka mewabahnya Tho’un dan penyakit yang aneh aneh…
Tho’un dan penyakit yamg aneh aneh yang dimaksudkan pada hadits ini tidak terjadi diera sahabat, namun terjadi pada generasi setelah mereka, wallahu’alam…
Tho’un diera para sahabat dulu bersifat lokal dan tidak menglobal. Maka 100 tahun setelah mereka barulah Tho’un dan penyakit itu mulai mewabah menglobal.
Penyebab Tho’un dan wabaah diakhir jaman tidak lain muncul dan menyebar dikarenakan meratanya kekejian yang dilakukan secara terang-terangan.
Beberapa kali wabaah telah terjadi secara serentak diera Kekhilafahan Abbasiyyah. Tho’un dan penyakit menular pernah terjadi secara serentak melanda Basrah, Kuwfah, Syams, Mesir, Persia, Khuraasan, India dan melanda Negeri Negeri disepanjang sungai Nil Afrika sampai Andalus.
Catatan sejarah ditahun 449 Hijriyah menyebutkan munculnya wabaah yang mengglobal saat itu tidak lain disebabkan menyebarnya kekejian di negeri negeri muslim yang dikuasai oleh Bani Buwaihiy ar Rafidhiy, dan Bani Ubaid al Bathiniy serta daulah yang berafiliasi kepada mereka. Saat mereka berkuasa, Islam benar benar dinistakan, para sahabat dihinakan, dicacimaki dan ditulis di masjid masjid pelaknatan atas mereka, khomer dan pelacuran merajalela; di Kurasaan, Persia sampai Baghdad, tidak ada rumah saat itu kecuali tersimpan guci guci Khomer dan alat alat musik. Musik dan biduanita menjamur dan manusia hidup kikir dan enggan bersedekah. Maka jika sudah begini turunlah Adzab Allah. Ibnu Jauziy menuliskan dalam catatan sejarahnya apa yang terjadi ditahun ini:
al Imam Ibnu Jauziy berkata:
فيها كان الغلاء والفناء مسترين ببغداد وغيرها من البلاد بحيث خلت أکثر الدور وسدت علی أهلها أبوابها بما فيها وأهلها فيها موتی, وصار المار فی الطريق لا يلقی الواحد بعد الواحد…
Pada tahun ini (449 H), terjadi inflasi dan banyak kematian yang terus menerus (akibat wabaah) di Baghdad dan negeri negeri sekitarnya; banyak rumah rumah yang kosong, pintu pintu rumah tertutup rapat menutupi para penghuninya, sementara para penghuninya sudah mati (karena wabaah dan kelaparan), maka orang yang berjalan hanya mendapati satu atau dua orang saja dijalanan…
وورد كتاب من بخاری أنه مات فی يوم واحد منها ومن معاملتها ثمانيۃ عشر ألف انسان, وأحصی من مات فی هذا الوباء الی أن كتب هذا الكتاب-يعنی الوارد من بخاری -بألف ألف و خمسماٸۃ ألف و خمسين ألف انسان. و الناس يمرون فی هذا البلاد فلا يرون الا أسواقا فارغۃ و طرقات خاليۃ, وأبوابا مغلقۃ.
Datang surat dari Negeri Bukhara yamg mana dalam sehari saja di Bukhara dan sekitarnya telah mati karena wabaah 18 ribu orang. Saat dihitung orang yang wafat karena wabaah sejak surat dari Bukhara datang sebanyak 1.555.000 orang. Manusia yang melintasi negeri negeri ini hanya menyaksikan pasar pasar yang kosong, jalan jalan yang sepi dan pintu pintu rumah yang tertutup.
قال ابن الجوزی: وجاٸ الخبر من اذربيجان وتلك البلاد البالوباء العظيم وأنه لم يسلم الا العدد القليل. قال: ووقع وباء بالاهواز واعمالها وبواسط والنيل والكوفۃ وطبق الأرض, وكان اكثر سبب ذلك الجوع, حتی كان الفقراء يشوون الكلاب, وينبشون القبور, ويشوون الموتی ويأکلونهم, وليس للناس شغل فی الليل و النهر الا غسل الاموات وتجهيزهم ودفنهم وقد كانت تحفر الحفيرۃ, فيدفن فيها العشرون والثلاثون. وكان الانسان يكون قاعدا فينشق قلبه عن دم الممجۃ, فيخرج الی الفم منه قطرۃ, فيموت الانسان من وقته.
Ibnu Jauzy berkata: telah datang khabar dari Azerbaijan yang mana Negeri itu dilanda wabaah yang besar, dan hanya sedikit orang yang selamat. Dikatakan: dan wabaah ini juga menjangkiti Ahwaz dan sekitarnya, Wasith, kawasan Sungai Nil, Kuwfah, dan kawasan lainnya; kebanyakan penyebabnya kelaparan, sampai sampai Kaum Fakir memanggang anjing, membongkar kuburan lagi memanggang mayat mayat lalu memakannya. SIANG MALAM MANUSIA HANYA DISIBUKKAN MEMANDIKAN JENAZAH, MENGURUS DAN MEMAKAMKANNYA. SATU LUBANG DIGALI UNTUK 20 ATAU 30 JENAZAH. Ada orang yang lagi duduk duduk tiba tiba jantungnya pecah karena tekanan darah dan dari hati: dari mulutnya keluar darah, lalu orang itu mati seketika.
Aku katakan:
Maka, para Salaf dahulu telah mencontohkan bagaimana menghadapi wabaah dan mereka tahu obatnya, karena Tho’un dan Wabaah berasal dari Allah. Maka sebagaimana kisah para tabiin dan generasi setelah mereka, maka mereka meyakini dan mengamalkan, bahwa: obatnya adalah: taubat kembali kepada Allah (zikrullah), bertasbih, bertahmid, bertakbir, melazimi membaca al Qur’an, memdatangi dan memakmurkan masjid-masjid menegakan Amal Ma’ruf Nahi Munkar dan menjauhi semua maksiat dan kekejian; SAMPAI DATANG KETETAPAN ALLAH.
al Imam Ibnu Jauziy rahimahullah menuliskan:
وتاب الناس, وتصدقوا بأکثر أموالهم وأراقوا الخمور وكسروا المعازف وتصالحوا, ولزموا المسجد لقراءۃ القرآن, وقل دار يكون فيها خمر الا مات. أهلها كلهم. ودخل مريض له سبعۃ أيام النزع, فأشار بيده الی مكان, فوجدوا فیه خابيۃ من خمر, فأر اقوها فمات من قوره بسهولۃ.
Manusiapun bertaubat, banyak bersedekat dengan harta harta mereka; menumpahkan guci guci khomer, menghancurkan alat alat musik (sejenis alat musik seperti gitar/المعازف); meperbaiki diri: MENETAPI MASJID MASJID DAN MELAZIMI MEMBACA AL QUR’AN; saat itu sedikit sekali rumah yang ada khomer-nya kecuali mereka mati semua. Pernah didatangi seorang yang sakit selama tujuh hari dalam sakaratul maut (an Naaz’i/النزع), lalu dia menunjuk kepada tempat penyimpanan Khomer lalu mereka mendapati guci guci Khomer, saat mereka menumpaknya orang yang sekarat itu langsung mati.
Kemudian al Imam Ibnu Jauziy juga mengisahkan seseorang yang menetapi masjid saat itu, orang itu bertaubat dan mati dimasjid dan padanya ada 50 ribu dirham:
ومات رجل بمسجد, فوجد معه خمسون ألف درهم, فلم يقبلها أحد, فتركت, فی المسجد تسعۃ أيام لا يريدها أحد, فدخل أربعۃ فأخذوها, فماتوا عليها.
Seorang laki laki meninggal di Masjid, bersamanya ditemukan 50 ribu dirham; tidak ada yang mau menerimanya, lalu uang itu ditinggalkan di masjid, lalu datang empat orang mengambilnya, lalu mereka semua mati karenannya.
Kemudian al Imam Ibnu Jauziy menyebutkan orang orang disaat wabaah melanda, mereka tetap membuka kajian ilmu dalam rangka memgharap ridha Allah:
وكان الشيخ أبو محمد عبد الجبار بن محمد يشتغل عليه سبعماٸۃ متفقه فمات وماتوا كلهم الا اثنی عشر نفرا منهم, رحمهم الله تعالی.
asy Syaikh Abu Muhammad Abdul Jabaar sedang sibuk dengan 700 orang (murid murid) belajar fikih kepadanya; iapun wafat dan mereka semua wafat (terkena wabaah) kecuali tersisa dari mereka 12 orang, Rahimahullahu Ta’ala.
Beberapa Pelajaran dan Petunjuk:
Banyak pelajaran dari apa yang ditulis dalam sejarah ini, diantaranya:
Wallahi, ini nampaknya mencocoki kondisi dunia kita saat ini, yakni keadaan yang menyerupai panceklik diera Nabi Yusuf.
Al Imam adz Dzahabiy (dalam kitabnya “Tarikh Islam”) menyimpulkan bahwa kondisi ditahun ini adalah sesuatu belum pernah terjadi sejak terjadinya bencana Panceklik dan Wabaah diera Nabi Yusuf Alaihisallam. Adapun bencana ini, justru lebih dahsyat dari Panceklik diera Yusuf.
Kelaparan merajalela, wabaah menyebarluas di negeri negeri muslim dan juga dunia, perdagangan dunia terhenti, transportasi terputus, pasar pasar kosong hingga pangan bagi manusia langka.
Wabaah telah meningkatkan jumlah kematian hingga jumlah manusia mati saat itu mencapai jutaan.
Ini termasuk perkara pandemi global, dan hal seperti ini tidak pernah terjadi diera para sahabat dan tabiin.
Sebelum bencana tujuh tahun itu terjadi, maksiat dan kekejian merajalela, musik, khomer dan pelacuran merebak dan marak.
Orang orang kafir dan musyrik Rafidhah dan Bathiniy telah menguasai Kaum Muslimin hingga mereka (muslimin) banyak yang mengikuti kekafiran mereka.
Lalu turunlah adzab Allah.
Lalu manusia sadar, mereka bertaubat meninggalkan permainan, pelacuran, khomer, musik. Manusia mulai meramaikan kembali masjid masjid dan majlis ilmu, membaca dan melazimi al Qur’an, beramal dan bersodaqoh.
Kaum muslimin disaat wabaah itu berlangsung tetap memperlakukan pengurusan jenazah sesuai syariat, memandikan, mengkafani, mensholatkan dan menguburkan, baik siang maupun malam hari.
Kaum muslimin telah memakamkan secara massal, dimana satu lubang dimakamkan 20 s.d 30 jenazah; maka diera ini sudah dikenal hal yang darurat yang seperti ini. Adapun tata cara memandikan, mengkafaniy dan menyolatkan dilaksanakan seperti biasa.
Para ulama disaat wabaah berlangsung, maka mereka tetap membuka majlis ilmu sebagaimana yang ditulis Ibnu Jauziy, sampai sebagian besar mereka saat itu meninggal dalam keadaan belajar fikih.
Wallahu’ Ta’ala Alam
Maraji:
al Muntadzham liy Ibnu Jauziy al Hanbaliy. Daar Kuttub al Ilmiyyah. Cet. Kedua. 1415 H/1995 M.
al Bidayah wa an Nihayah.
#Ben
Teladan Para Salaf Dalam Menghadapi Wabah