Beberapa kebohongan Thaliban

Tulisan lama 2015

ABANA GHAIDA · AL BATTAR · DID YOU KNOW KEBOHONGAN TALIBAN

Penulis: Abu Bakar Al-Barqawi Alih Bahasa: Abana Ghaida

Segala puji bagi Allah yang telah menguak jalan orang-orang jahat dan orang-orang sesat. Segala puji bagi Allah yang memerintahkan untuk senantiasa menunjukkan jalan rusak itu kepada seluruh manusia, serta mewanti-wanti mereka di setiap masa dan waktu. Shalawat serta salam untuk Nabi Muhammad Sang Jujur lagi Terpercaya, untuk para kerabat keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya.

Amma ba’du: Pasca kebohongan Taliban, banyak persoalan bermunculan ke permukaan dan memperlihatkan kepada manusia kekacauan apa yang telah terjadi. Bagi orang yang mau menelisik dan meneliti, persoalan tersebut pasti nampak terang-benderang. Namun hari ini, persoalan tersebut sudah tak lagi samar bagi setiap orang yang mengikuti perkembangan peristiwa dan realita. Setelah kebohongan Taliban, banyak pihak merasa yakin bahwa Al-Qaidah hari ini bukanlah Al-Qaidah yang kemarin. Al-Qaidah hari ini dikenal dengan pengkhianatan, kedustaan, penipuan, dan penyimpangan dalam manhaj, akidah, kebijakan siyasah asy-syar’iyyah (politik syar’i). Pidato-pidato, pernyataan-pernyataan, dan koalisi-koalisi mereka bersama orang-orang murtad menjadi sebaik-baik bukti atas penyimpangan dan penyelewengan yang mendera mereka selepas wafatnya Syaikh Usamah bin Ladin Rahimahullahu. Tidak cukup bagi mereka dengan semua penyimpangan yang menerpa mereka, sampai kemudian mereka mendatangkan kehancuran terbaru untuk mereka sendiri, yaitu kematian Mullah Umar –semoga Allah merahmati dan mengampuninya— ketika mereka berdusta menyembunyikan kematiannya, lalu mengumpulkan banyak baiat untuknya dengan alasan kemaslahatan yang mereka klaim. Setelah kebohongan Taliban, diketahui bahwa Al-Qaidah dan Taliban telah kehilangan sejumlah syarat dalam wacana ahlul-halli wal-‘aqdi (orang-orang yang memiliki kompetensi untuk memilih pemimpin) yang juga mereka gunakan untuk menganulir keabsahan Khilafah Amirul Mukminin Syaikh Ibrahim bin ‘Awad Al-Husaini Al-Qurasyi. Menurut mereka, ahlul-alli wal-‘aqdi Khilafah tidak mengajak mereka berkonsultasi dan memberi tahu kepada mereka. Lalu kebohongan mereka pun mencuat jelas, bahwa mereka jauh dari kelayakan untuk menduduki posisi ahlul-halli wal-‘aqdi untuk umat, bahkan kepemimpinan mereka hari ini terdiri dari para pengkhianat dan pembohong.

Imam Al-Mawardi berkata di dalam kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyyah:

فَأَمَّا أَهْلُ الِاخْتِيَارِ فَالشُّرُوطُ الْمُعْتَبَرَةُ فِيهِمْ ثَلَاثَةٌ : أَحَدُهَا الْعَدَالَةُ الْجَامِعَةُ لِشُرُوطِهَا .وَالثَّانِي : الْعِلْمُ الَّذِي يُتَوَصَّلُ بِهِ إلَى مَعْرِفَةِ مَنْ يَسْتَحِقُّ الْإِمَامَةَ عَلَى الشُّرُوطِ الْمُعْتَبَرَةِ فِيهَا.وَالثَّالِثُ : الرَّأْيُ وَالْحِكْمَةُ الْمُؤَدِّيَانِ إلَى اخْتِيَارِ مَنْ هُوَ لِلْإِمَامَةِ أَصْلَحُ وَبِتَدْبِيرِ الْمَصَالِحِ أَقْوَمُ “
Adapun ahlul-ikhtiyar (orang-orang yang punya kompetensi untuk memilih), maka ada tiga syarat mu’tabar (signifikan) yang harus dipenuhi mereka:
1. Keadilan yang meliputi segenap syaratnya.
2. Pengetahuan mumpuni terhadap orang yang layak untuk dipilih berdasarkan syarat-syarat yangmu’tabar (signifikan).
3. Memiliki pendapat dan kebijakan untuk memilih siapa yang lebih utama, orang yang lebih tepat dan lebih menguasai manajeman kemaslahatan.
” Mari kita dalami lebih lanjut syarat-syarat tersebut, kemudian kita letakkan kepemimpinan Al-Qaidah dan Taliban di atas timbangan, sehingga kita dapat mengukur apakah mereka berjalan berkelindan dengan syarat-syarat tadi. Syarat pertama adalah keadilan, termasuk di dalamnya adalah kejujuran dan amanah. Setelah kebohongan Taliban, kita bisa menegaskan apakah para pendusta dan penipu adalah orang-orang yang memiliki keadilan?! Kebohongan adalah salah satu sifat orang-orang munafik, sebagaimana disebutkan di dalam hadits:
ولا زال الرجل يكذب ويتحرى الكذب حتى يكتب عند الله كذابا
“Dan terus-menerus seseorang itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al-Bukhari, 6094, dan Muslim, 2607)

Kepemimpinan Taliban dan Al-Qaidah telah berdusta dan memlih yang dusta, bahkan mereka mendeklarasikan sejumlah baiat berdasarkan kebohongan, serta memegang sejumlah perjanjian dan dokumentasi berdasarkan pada kedustaan. Sampai kemudian Allah mengungkap keburukan mereka, untuk dijadikan pelajaran bagi segenap manusia yang pura-pura lupa bahwa tali kebohongan itu pendek, dan jika pun panjang maka ia akan nampak aslinya dalam waktu beberapa lama. Karenanya, rasa keadilan mereka telah rusak. Siapa saja yang berdusta terhadap umat, serta menipu mereka dengan menyatakan bahwa amir mereka masih hidup, berusaha menggapai rezeki dan meraih berbagai baiat mengatasnamakannya, menyampaikan pidato-pidato mengatasnamakannya, serta membuka cabang-cabang dan berperanga memerangi khilafah mengatasnamakannya, maka sangat tidak layak ditahbiskan sebagai ahlul-halli wal-‘aqdi atau majelis syura (komisi pemilihan).

Namun segala puji bagi Allah, mereka tidak diajak untuk berkonsultasi. Mereka telah menghimpun antara kebohongan ucapan dengan kebohongan perbuatan, dan hal ini merupakan bentuk kebohongan paling parah. Mereka berbohong dengan ucapan tatkala mengklaim bahwa Mullah Umar Rahimahullahu masih hidup. Sebagaimana mereka juga berbohong dengan perbuatan ketika membaiat, dan bahkan memperbarui baiat-baiat mereka kepadanya, padahal dia telah meninggal dunia dan mereka sejatinya mengetahui dan menyembunyikannya dari balatentara dan pengikut mereka. Demikianlah, agar balatentara semuanya tidak meninggalkan mereka, untuk kemudian membaiat Daulah Khilafah Islamiyah, berdasarkan kedengkian dan kebencian. Tiada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah. Setelah kebohongan Taliban, rasa keadilan mereka telah cedera, dan mereka bergabung ke dalam barisan orang-orang yang menyia-nyiakan amanat dan menipu kaum muslimin. Lalu bagaimana bisa kita mempercayai orang yang mengkhianati tentaranya dan pengikutnya sendiri, serta memutarbalikkan fakta kepada mereka. Bagaimana kita bisa mempercayai hal ini dalam persoalan pengangkatan khalifah dan pembentukan Daulah Khilafah Islamiyah. Apakah seorang pengkhianat layak untuk dijadikan sebagai seorang anggota ahlul-halli wal-‘aqdi dan dewan syura, seandainya mereka mengetahui. Sesungguhnya amanat dan kejujuran merupakan salah satu sifat utama yang harus dimiliki oleh ahlul-halli wal-‘aqdi. Lalu mengapa mereka meratap dan berteriak-teriak karena mereka tidak diajak untuk berkonsultasi (dalam pengangkatan khilafah), sedangkan mereka sudah kehilangan satu syarat penting dalam hal itu, dan mereka telah mengkhianati para tentara dan pendukung mereka. Setelah dideklarasikannya khilafah, berbagai pengumuman dan pernyataan dari komanda Al-Qaidah tiada hentinya bermunculan, menyuarakan bahwa mereka menganulir deklarasi khilafah, karena menurut mereka ahlul-halli wal-‘aqdi tidak berkonsultasi dengan para pemimpin jihad. Maksud mereka dalam hal ini adalah qiyadah Al-Qaidah dan para petingginya hari ini. Setelah kita mengamati kondisi mereka, maka kita mendapatkan bahwa mereka adalah para pengkhianat, para pendusta, dan orang-orang yang telah menyimpang dari manhaj dan akidah. Keyakinan kita semakin bertambah setelah kebohongan Taliban ini. Apakah mereka memiliki sifat adil yang dimiliki ahlu syura? Ketika ada orang yang telah berdusta menerima baiat-baiat mengatasnamakan amir yang telah meninggal dunia, lalu bagaimana kita bisa mempercayainya dalam hal kepemimpinan umat untuk melawan koalisi Salibis-Arab yang menyerang kaum muslimin. Selepas kebohongan Taliban, setiap orang adil lagi berakal dapat mengetahui bahwa ahul-halli wal-‘aqdi sejati ada pada dewan syura di Daulah Islam yang benar-benar jujur terhadap umat dalam setiap perkataan dan perbuatan mereka. Mereka tidak berdusta kepada umat. Mereka menamakan segala sesuatunya sesuai nama-namanya dan mereka tidak pernah membohongi umat. Seorang muslim ya tetap disebut muslim, seorang murtad ya memang murtad, dan orang kafir adalah musuh yang wajib untuk diperangi. Mereka tidak ber-mudahanah (menjilat/mencari muka) dan alih-alih menetapkan adanya win-win solution (solusi yang menguntungkan kedua belah pihak) dalam jalan yang ditempuh, mereka justru bersabar dan konsisten di gurun pasir Anbar (Irak), sampai akhirnya Allah menaklukkan segenap wilayah untuk mereka yang kemudian mengembalikan khilafah yang hilang, sehingga kaum muslimin memperoleh superioritasnya. Pun demikian, Allah juga menyelamatkan para mujahidin dari penyimpangan yang mendera kepemimpinan Taliban dan Al-Qaidah pasca wafatnya Mullah Umar dan Syaikh Usamah Rahimahumallah. Qiyadah Al-Qaidah sebelumnya menghasut Daulah Islam dengan mengatakan bahwa Daulah Islam takkan berkembang melainkan di wilayah-wilayah yang di dalamnya terdapat Al-Qaidah, dan menurut mereka ini adalah tindakan memecah-belah barisan dan melemahkan kekuatan mujahidin. Namun hakikatnya, perkembangan ini sangat logis dan bijak, yang mana Daulah Khilafah semakin berkembang (tamaddad) dan Al-Qaidah pimpinan Azh-Zhawahiri justru semakin terkuak aibnya dan terungkap kebohongannya kepada manusia, demi menyelamatkan para pemuda jihadis dari penyimpangan, kesesatan, dan konsep silmiyyah(perdamaian dengan kafir) yang diusung Azh-Zhawahiri, amir mereka yang ghaib (tersembunyi) dan majhul(tak dikenal saat ini). Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas karunia khilafah ini. Ya, Daulah Islam telah menyelamatkan sejumlah wilayah semisal Libya, Yaman, Khurasan, Sinai, Tunisia, dan Aljazair, dari pemikiran-pemikiran, pernyataan-pernyataan, dan tindak-tanduk menyimpang kepemimpinan neo-Al-Qaidah yang kini bermesraan dan bercumbu-rayu dengan para thaghut. Qiyadah Al-Qaidah yang kini tidak memerangi tentara-tentara murtad negara-negara Arab, kecuali hanya sekadar bertahan (daf’ush-shaa`il/menghalau serangan), serta membiarkan kaum Nasrani, Hindu, orang-orang awam dari kalangan Syiah Rafidhah, dan kaum munafik. Semua ini tiada lain karena alasan strategi “memukul kepala ular” dan memfokuskan diri kepada musuh Salibis saja. Apakah Al-Qaidah hendak mengatakan bahwa peperangan kami bukan dengan mereka, dari musuh Salibis atau para pembelanya, padahal, semoga Allah merahmati Sang Singa Syaikh Usamah –dan menerimanya ke dalam barisa para syahid—yang tidak pernah sekalipun menganut manhaj seperti itu. Bahkan peristiwa terbunuhnya Syaikh Usamah pun masih menjadi sumber kekhawatiran dan kegelisahan bagi para Salibis dan para agen murtad mereka. Namun hari ini, Al-Qaidah telah menyimpang dari manhaj Syaikh Usamah Rahimahullahu. Setelah kebohongan Taliban, kita katakan, alangkah baiknya Syaikh Abu Muhammad Al-‘Adnani (juru bicara Daulah Islam)–semoga Allah menjaganya—yang telah berani berseru di hadapan mereka dengan mengatakan, “Ini Bukan Manhaj Kami dan Tidak akan Mungkin.” Daulah Islam telah lebih dulu menyadari hal tersebut sebelumnya, kendati pun mereka mengingkari pernyataan dan peringatan itu. Setelah kebohongan Taliban, apa yang dikatakan Syaikh Al-Adnani adalah realita menyakitkan, sebagaimana dia sebutkan: “Kami mengatakan ini sedang kesedihan meliputi diri kami.” Wahai orang-orang yang masih membela Al-Qaidah pimpinan Azh-Zhawahiri, tengoklah mereka hari ini di hadapan kalian, mereka berbohong kepada kalian, mengkhianati amanat, dan menipu umat yang senantiasa menyenandungkan nama dan slogan-slogan Al-Qaidah. Lalu setelah semua ini, masihkah kalian mengatakan bahwa mereka adalah ahlul-halli wal-‘aqdi dan dewan syura?! Kemudian Imam Al-Mawardi menerangkan syarat kedua dari ahlul-halli wal-‘aqdi: Mereka juga menyerukan agar para pengikut Al-Qaidah tidak sendirian dalam memimpin perlawanan di Mali, sehingga membiarkan persoalan tersebut dicampuri oleh orang-orang munafik dan al-murjifun(para penyebar kabar bohong). Jika seperti ini, pemikiran bijak, cerdas (bashirah), dan wawasan mumpuni dalam manajemen kepentingan seperti apa yang mereka miliki? Hal itu tiada lain hanyalah kesesatan dan penyimpangan. Di antara tindakan terbaru cabang Al-Qaeda di Maghrib Islami adalah dukungan mereka kepada para Shahawat murtad di Derna (Libya) guna memerangi Daulah Khilafah,wallahul-musta’an. Tiada satu jalan pun yang tersedia untuk memerangi Daulah Islam, melainkan niscaya akan dilalui oleh Al-Qaidah pimpinan Azh-Zhawahiri. Meskipun harus melakukan kebohongan, penipuan, penyebarluasan fitnah, dan pecah-belah barisan. Al-Q aidah sangat lambat dalam memerangi orang-orang murtad, namun begitu cepatnya memerangi Daulah Tauhid, Daulah Islam yang mendapatkan pertolongan Allah. Al-Qaidah tidak memerangi orang-orang murtad berdasarkan suatu kemaslahatan (menurut mereka), dan segera memerangi Daulah Islam juga berdasarkan suatu kemaslahatan. Kemaslahatan yang membuat mereka membolehkan melanggar janji, kebohongan, dan pengkhianatan. Orang yang memiliki karakter seperti ini, sama sekali tidak diperbolehkan untuk diajak bermusyawarah, terlebih lagi jika dijadikan sebagai ahlul-halli wal-‘aqdi bagi umat. Adapun Taliban hari ini, tahukah engkau apa Taliban hari ini? Setelah wafatnya pemimpin mereka, maka mereka meniti jalan bengkok yang tidak pernah dilalui pemimpin mereka. Taliban menjadikan kaum Syiah Rafidhah di Iran sebagai teman, berjanji takkan menargetkan negara-negara kafir yang bertetangga dengan mereka seperti Pakistan, dan mengajak kepada manhaj nasionalisme jahiliyah yang busuk. Mereka juga meluncurkan ungkapan-ungkapan; “perdamaian” dan “keamanan dunia”, untuk meraih perhatian negara-negara Salibis bahwa Talibah hari ini bukanlah Taliban yang kemarin. Sekiranya mereka menyatakan hal itu setelah pengumuman wafatnya pemimpin mereka. Namun sungguh sangat nista dan hina bagi siapapun dalang di balik semua (penyimpangan) itu, lantas mereka menisbatkan seluruh penyimpangan kepada amir mereka yang telah meninggal dunia untuk menambah dosa demi dosa. Siapa saja dari kalangan Taliban atau Al-Qaidah yang berdiam diri dan berpartisipasi dalam tindak kejahatan keji itu, maka dosanya dibebankan kepadanya, dan dia pun akan memikul dosanya Mullah UmarRahimahullahu. Alih-alih mereka mengumumkan wafatnya, memancang tekad untuk teguh berjalan di atas manhajnya, dan memperbaiki segenap kesalahan di masa silam, mereka justru menyimpang secara total dari jalan jihad syar’i untuk kemudian masuk ke jalan perjuangan nasionalisme. Mereka adalah para pengikut durhaka dari pemimpin mereka dan para pengkhianat rakyat. Tidak perlu heran apabila dikatakan bahwa penggerak Taliban hari ini adalah lembaga intelijen Pakistan, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Wali Daulah Islam di Khurasan Syaikh Hafizh Sa’id Khan (semoga Allah menjaganya). Dia menegaskan, tatkala Daulah Islam melebarkan sayapnya ke negeri Khurasan, banyak balatentara terbaik Taliban pergi meninggalkan Taliban dan berbaiat kepada Daulah Khilafah. Dan hal ini menjadi sebaik-baik bukti dari berakhirnya era kebaikan dan jihad Taliban, serta menjadi awal Taliban yang telah diretas oleh dinas intelijen nasionalis Taliban Pakistan yang berteman akrab dengan Syiah Rafidhah Iran dan agen Amerika Serikat, yaitu negara kecil Qatar. Taliban kini berupaya untuk membuka hubungan dengan masyarakat internasional yang dulu menjajah Taliban, dan saat itu Taliban berperang di bawah panji Mullah Umar Rahimahullahu. Musuh pada hari kemarin, namun telah menjadi sekutu erat pada hari-hari sekarang ini. Semoga Allah merahmatimu, wahai Mullah Umar, dan semoga Allah menghinakan dan membuat terpuruk sang suksesor sepeninggalmu. “Pengetahuan mumpuni terhadap orang yang layak untuk dipilih berdasarkan syarat-syarat yang mu’tabar (signifikan).” Barangsiapa telah memberikan baiat kepada orang yang telah meninggal dunia (Mullah Umar Rahimahullahu) dan kepada orang yang tersembunyi lagi tidak diketahui (Aiman Azh-Zhawahiri), bagaimana bisa dikatakan bahwa dia mengetahui syarat-syarat imamah (kekhalifahan/kepemimpinan), padahal syarat paling pertama dan penting adalah: kondisi hidup. Mereka dalam hal ini, bisa jadi tidak mengetahui (bodoh) syarat-syarat imamah sehingga mereka tidak layak menjadi ahlul-halli wal-‘aqdi, atau bisa jadi mereke sejatinya mengetahui namun mereka menutu-nutupinya untuk memperdaya balatentara mereka. Dalam dua keadaan ini, mereka pun tidak layak untuk menjadi ahlu l-halli wal-‘aqdi dan dewan syura. Syarat ketiga: “Memiliki pendapat dan kebijakan untuk memilih siapa yang lebih utama, orang yang lebih tepat dan lebih menguasai manajeman kemaslahatan.” Apabila kita mengikuti perkembangan penyimpangan-penyimpangan yang dilakoni Al-Qaidah dan Taliban setelah kematian Mullah UmarRahimahullahu dan Syaikh Usamah bin Ladin Taqabbalahullahu, maka kita akan mengetahui bahwa mereka sangat jauh dari kata “kebijaksanaan” (al-hikmah), jauh dari penguasaan “ketepatan pendapat” dan manajemen kemaslahatan umat. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa menjadi ahlul-halli wal-‘aqdi?! Tengok saja arahan-arahan amir ghaib dan majhul mereka, Azh-Zhawahiri, yang mengumandangkan manhaj perdamaian dan ‘tiarap’ serta menyerukan untuk membiarkan mayoritas orang-orang murtad dari kalangan tentara-tentara murtad negara-negara Arab yang merupakan kepanjangan tangan dan para pembela negara-negara Salibis di kawasan (Timur-Tengah). Sang Doktor memerintahkan untuk tidak memerangi mereka, kecuali apabila mereka memerangi terlebih dulu, maka sudah seharusnya untuk menghalau serangan mereka sesuai dengan kadar serangan mereka. Itu pun disertai keterangan bahwa menghalau serangan mereka merupakan persoalan memerangi Salibis, bukan dikarenakan kemurtadan para tentara yang sejatinya telah memerangi syariat dan menolak untuk menegakkan syariat!!! Hal itulah yang menjadi langkah awal munculnya penyimpangan, diikuti kemudian lontaran puja-puji dan doa keteguhan untuk thaghut Mursi. Bahkan salah seorang petingginya malah berharap seandainya dirinya ada di posisi Mursi, dan duduk di singgasana kepresidenan untuk berkuasa!!! Apakah hal ini yang dinamakan dengan pemikiran bijaksana dan pendapat tepat?! Lalu apakah orang yang mengatakan hal itu dapat dipercaya untuk memilih khalifah bagi kaum muslimin?! Kita khawatir, seandainya kita percayakan kepada mereka, maka mereka justru memilih thaghut Mursi. Dan mereka mungkin saja melakukannya, mengingat bahwa revolusi yang memunculkan Mursi menurut pendapat Azh-Zhawahiri adalah revolusi penuh berkah. Di antara penyimpangan lainnya adalah diterimanya baiat sang pelanggar janji, yaitu Al-Jaulani, dan seruan untuk menumpahkan darah balatentara Daulah Islam dengan alasan mereka adalah Khawarij dan anak-cucu Ibnu Muljam!! Mereka memecah-belah barisan dan menyebarluaskan fitnah (penyimpangan/kerancuan), kemudian mereka pun seenaknya menuduh Daulah Islam. Mereka ini, meminjam peribahasa, telah melempar batu lalu sembunyi tangan dan malah menuduh orang lain. Termasuk dalam hal ini juga adalah koalisi Jabhah Al-Jaulani yang merupakan cabang resmi Al-Qaidah di Syam, dengan para Shahawat murtad untuk memerangi mujahidin Daulah Islam. Setelah semua ini, apa mereka masih layak disebut sebagai ahlul-halli wal-‘aqdi?? Untuk lebih meyakinkan pembaca atas penyimpangan-penyimpangan mereka, maka saya menambahkan keterangan lainnya lagi. Cabang mereka di Maroko (Al-Qaeda in Islamic Maghreb/AQIM) menyerukan persatuan dengan gerakan sekularisHarakah Wathaniyah li Tahrir Azawad(Pergerakan Nasional Pembebasan Azawad), memerintahkan menghentikan penegakan hudud(hukuman syariat) dan penghancuran kuburan yang disembah selain Allah, dengan alasan bahwa manusia bodoh terhadapnya (udzur jahil)!!!

Terakhir, setelah kebohongan Taliban, kita akhirnya mengetahui sejatinya tidak ada baiat dari cabang-cabang Al-Qaidah kepada Mullah Umar. Pasalnya, tidak ada baiat untuk orang yang telah meninggal dunia. Fenomena pembaruan baiat kepadanya jelas tidak sah. Wahai balatentara Al-Qaidah, saat ini kalian tidak punya argumentasi lagi terkait keengganan kalian untuk berbaiat kepada Amirul Mukminin Syaikh Ibrahim bin Al-‘Awwad Hafizhahullahu.

Mullah Umar telah meninggal dunia dan Azh-Zhawahiri pun tersembunyi, lalu bagaimana bisa kalian menyerahkan leher kalian kepada orang yang telah meninggal dunia dan tidak diketahui kondisinya. Wahai tentara Al-Qaidah, kini telah berdiri Khilafah Islamiyah. Tinggalkanlah tanzhim-tanzhim (organisasi) hizbiyyah (fanatisme golongan) yang menjadikan kebohongan sebagai batu loncatan untuk bisa survive (hidup). Apakah kalian masih menanam benih kepercayaan kepada mereka?
Tiada alasan bagi orang yang enggan berbaiat (kepada Khilafah Islam) hari ini selain karena hawa nafsu dan ‘
ashabiyyah (fanatisme buta). Hari demi hari senantiasa memunculkan berbagai peristiwa baru.

Sesungguhnya sunnatullah (ketetapan Allah) bagi Daulah Islam; bahwa siapa saja yang memeranginya, maka Allah akan menyingkap kesesatannya dan memperlihatkan penyimpangannya. Hanya Allah-lah penguasa segenap puja-puji, ya Allah bagi-Mu segenap pujian.

Penulis
Tentara Khilafah
Abu Bakar Al-Barqawi

Naskah asli: http://a-libya.blogspot.com/2015/08/blog-post.html?m=1

Leave a comment