بِسْـــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِـــــــــيم
Artikel utama koran An-Naba’ edisi 280, hal.3
Kamis, 18 Sya’ban 1442 H
Setiap Jasus(Mata-mata) Akan Berakhir
Pernyataan para singa pertempuran di Irak tentang menyingkap sarang jasus bukanlah yang pertama dari jenisnya, sekalipun mereka memiliki jaringan yang lebih luas dari rekan-rekan mereka ini, itu karena banyak sebab terkait dengan situasi genting kaum Rafidah musyrikin, dari perbedaan pendapat yang saling bertentangan diantara mereka yang kemudian mulai bertukar menjadi saling menuduh di antara mereka sendiri, dengan sebab kelalaian, kegagalan, dan bahkan pengkhianatan!
Dan inilah yang terjadi sebagai tamparan yang harus mereka terima dari tentara daulah islam.
Beberapa dari mereka menuduh tentara Rafidah dan pasukan pemerintah gagal memberikan keamanan di daerah yang mereka klaim sebelumnya telah “di steril-kan”. Yang lain dari mereka menuduh milisi rafidah lah dan menuntut mereka untuk keluar dari daerah tersebut dan menggantinya, dan yang terakhir menuduh jasus itu sendiri yang melakukan pengkhianatan dan persekongkolan, sementara mujahidin sendiri adalah pemenang dalam pertempuran ini atas rahmat Allah Ta’ala.
Konflik internal yang selalu terjadi dalam milisi rafidah dan dari serangan baru-baru ini menjadi tidak terbatas pada pemerintah, milisi dan faksi, bahkan pada pengikut Rafidah dan individu mereka, secara terbuka menyatakan hilangnya kepercayaan mereka pada pemerintah, tentara, dan semua milisi.
Percaya diri yang terlalu tinggi dari Rafidah dan sekutunya, adalah salah satu yang di jadikan taktik keamanan yang berhasil dimanfaatkan oleh detasemen mujahidin untuk masuk ke tengah jasus yang menjual agama mereka dengan murah, dan menjalani hidup dengan menunggu kematian, kegelapan senantiasa meliputi mereka sampai mereka terjebak dan diserang di dalam rumah dan tempat tidur mereka sendiri, seperti yang di janjikan Mujahidin sebelumnya.
Sesungguhnya jasus adalah pisau belati yang menusuk dari belakang bagi kaum muslimin sepanjang zaman, sementara mereka adalah kaki tangannya para tiran yang menindas, mata-mata mereka adalah mata-mata yang berbahaya, dan seperti tangan-tangan yang menyerang Muslim harus dipotong, begitu pula mata-mata pengkhianat yang memata-matai akan diperlakukan.
dan sungguh daulah islam sejak awal telah memerangi jasus dengan segala cara sesuai petunjuk dan hukum syar’i dalam banyak pernyataan dan lisan, dari sumber medianya yang dikemas dalam bentuk visual, audio dan artikel, untuk memperingatkan dan menghati-hatikan, menunjukkan dan menjelaskan bahaya jasus dan besarnya kejahatan mereka, serta hukuman dari kejahatan mereka, dan sungguh para masyaikh daulah islam sejak awal sudah memberi perhatian besar dalam hal ini, menjelaskannya secara detil melalui pernyataan maupun khutbah mereka selama beberapa tahun terakhir, memperingatkan agar tidak terjatuh dalam perbuatan jasus dan murtad tanpa sadar, dan mengancam akan membunuh mereka dimanapun mereka berada dan memperingatkan bahwa akibat yang akan mereka terima tidak akan beda dari para pendahulu mereka jika mereka tidak bertobat.
🔽🔽🔽
Category: Artikel
ANSHARULLAH (PARA PENOLONG AGAMA ALLAH ﷻ)
Arbii’a 26 Rajab 1442 H
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْـــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِـــــــــيم
ANSHARULLAH (PARA PENOLONG AGAMA ALLAH ﷻ)
Manusia – adalah ciptaan Allah ﷻ yang paling sempurna diantara seluruh makhluk-makhluk-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ath-Thagabun pada ayat yang ketiga:
“Dia (Allah) yang membentuk wujudmu lalu memperbagusnya dan kepada-Nya tempat kembali (bagimu).”
Di dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menerangkan tentang asal penciptaan manusia ini. Kita adalah makhluk yang dibentuk dan diciptakan oleh Allah ﷻ melalui saripati tembikar yang didatangkan dari berbagai penjuru dan berbagai jenisnya.
Sebagai ciptaan Allah ﷻ yang sempurna, Dia telah memberi bekal (modal) kepada umat manusia ini berupa pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, farji dan hati. Dengan adanya 7 modal itu, Allah ﷻ hendak menguji mereka dengan perintah dan larangan.[1]
Dengan karunia 7 modal tersebut itu pula manusia dapat melestarikan kehidupan dari generasi ke generasi, disertai dengan adanya amanah Tauhid dan untuk berjalan diatas Syari’at yang sudah ditetapkan oleh-Nya, serta dalam batas waktu yang telah ditentukan.
Pada 7 organ tersebut salah satunya berkedudukan sebagai pemimpin atau raja dan kedudukan itu dimiliki oleh hati. Sedangkan keselamatan 6 anggota organ yang lain ditentukan oleh keadaan hati itu sendiri. Jika keadaan hati baik dan berada diatas taufik Allah ﷻ maka selamatlah 6 organ lainnya.
Namun, jika hati tidak mendapatkan taufik dari-Nya, niscaya hati akan senantiasa berbuat bodoh, zhalim dan aniaya, kemudian menyeret orangnya ke jurang neraka. Jika demikian halnya, maka merugilah pemilik 7 modal tersebut baik di dunia dan akhirat.
Ia adalah orang yang bangkrut dan binasalah dirinya untuk selama-lamanya. Karena ia tergolong sebagai orang yang gagal dalam ujian dunia yang sesaat ini.
Batas waktu yang sebentar yang dijalani oleh manusia ketika di dunia dapat memberikan manifestasi yang abadi dan tak ada habisnya di kehidupan akhirat. Apakah ia akan bahagia sebagai penduduk Jannah yang diliputi oleh berbagai kenikmatan berupa buah-buahan, harta melimpah, ketentraman, isteri-isteri yang suci, kemudian pada puncaknya dapat melihat Wajah Allah ﷻ yang menatap ridha kepada dirinya?
Ataukah ia akan menjadi orang yang menyesal dan merugi untuk selama-lamanya sebagai penduduk neraka Jahannam yang diliputi oleh berbagai kesengsaraan, berupa siksaan yang pedih tanpa henti, memperoleh makanan yang busuk dan berbau dari nanah dan darah, kemudian ia mengalami kemelaratan yang terlaknat, ketakutan yang tiada henti, kehinaan yang abadi dan sebagai puncak dari kebinasaan itu adalah ia tidak dapat melihat Wajah Allah ﷻ di akhirat, kecuali tatapan kemurkaan dari Allah ﷻ kepadanya atas kekafiran dan keberpalingannya ketika di dunia dari Syari’at Allah dan Dien Islam yang haq.
Oleh karena itu, keadaan hati dan setiap perbuatan anggota badan harus berada diatas pengawasan yang ketat. Kemana ia berjalan? Kepada siapa ia berteman dan menjalin hubungan persahabatan? Kepada siapa ia mengabdikan diri dan menggantungkan tawakkal? Dan kepada siapa ia memberikan pertolongan dan dukungan dengan seluruh kekuatan anggota badan dan waktu yang dimilikinya?
Melalui ujian perintah dan larangan, manusia menjadi terpilah dan terkatagorikan. Diantaranya ada yang ta’at dan diantaranya pula ada yang membangkang. Kemudian nampaklah siapa diantara hamba-hamba-Nya yang beriman lagi bertakwa, dan siapakah diantara hamba-hamba-Nya yang kafir lagi congkak.
Allah ﷻ berfirman:
“Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antara kamu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [QS. At-Taghabun: 2]
Mukmin dan kafir, adalah dua kubu besar yang menggolongkan umat manusia ini. Tidak ada kubu yang ketiga yang menjadi penengah diantara mereka. Setiap kubu memiliki kemah yang menjadi tempat dimana meraka berteduh dan bernaung.
Bahkan, pada setiap kemah tersebut terdapat singgasana bagi para pembesar golongan yang menjadi wali, pelindung dan teman, yang dita’ati, diikuti dan yang diteladani.
Masing-masing golongan memiliki pemimpin yang menghimpun umatnya untuk saling menguatkan dan solid. Kubu keimanan menyeru kepada takwa kepada Allah ﷻ sedangkan kubu kekafiran menyeru kepada dominasi hawa nafsu dan kekuasaan yang dijanji-janjikan oleh syhaitan-syaithan jin dan manusia. Oleh karena itu, pemilahan teman akrab yang salah dalam konteks ini, dampak negatifnya sangatlah besar. Demikian pula, pemilahan teman akrab yang tepat juga akan memiliki dampak baik seperti yang diingini oleh Allah ﷻ bagi hamba-Nya.
Karena setiap golongan manusia itu, tentu akan menyeru kepada “jalan hidup” yang mereka yakini dan tiap-tiap mereka juga berbeda pendapat dalam melihat sejuah mana arti “kebebasan” beranak-pinak di muka bumi.
Orang-orang beriman menjadikan Kitab-Nya sebagai cahaya yang terang benderang. Cahaya yang menunjuki kepada jalan keselamatan dan keridhaan-Nya. Jalan pengabdian dari seorang hamba kepada Rabb Alam Semesta dan tidak ada jalan yang lain setelah itu, kecuali jalan kesesatan, kegelapan, kezhaliman, kebodohan dan kehancuran.
Adapun orang-orang yang berada di kubu kekafiran, mereka menjadikan hawa nafsu sebagai sumber petunjuk menuju kepada jalan kesesatan, menuju jalan kebebasan dan “kemerdekaan” yang diwahyukan oleh syaithan jin dan manusia. Mereka lebih mengagungkan bisikan-bisikan para pemimpin syahwat, daripada ayat-ayat yang Muhkam. Hati mereka cenderung pada kesesatan dan syubhat, daripada hidayah Allah ﷻdan Al-Haq.
Orang beriman memaknai arti kebebasan dan kemerdekaan adalah ketika ia telah menaklukkan syahwat dunia dan dapat tunduk pada hukum-hukum-Nya. Hingga mereka dapat melalui ujian kehidupan dunia ini dengan selamat sedangkan Allah ﷻ pun ridha kepada mereka.
Adapun orang-orang dari kubu kekafiran, mereka memaknai arti kebebasan dan kemerdekaan adalah ketika mereka bebas mengatur komunitas dan kehidupan mereka sesuai dengan hawa nafsu mereka, sesuai dengan bisikan hati dan dorongan-dorongan akal mereka, yang mana mereka pandang hal itu lebih “manusiawi” dan diatas jalan yang benar.
Oleh karena itu, mereka merasa sangat terkekang jika ada aturan Syari’at yang tegak di lingkungan mereka. Kemudian mereka akan berusaha melenyapkannya dari kehidupan dan lingkungan mereka. Ketika mereka sudah menyingkirkan setiap unsur yang terkait dengan Islam dan Syari’at-Nya, niscaya mereka akan berkata, “Merdeka!!” (Namun, amat disayangkan keadaan ini menjadi hal yang lazim di kalangan kaum muslimin itu sendiri).
Inilah hakikat dari dua kubu besar yang ada di dunia ini yang mana Allah ﷻ berfirman tetang mereka:
“Allah adalah Pelindung bagi orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaithan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [QS. Al-Baqarah: 257]
Imam Ibnu Katsir t berkata, “Allah ﷻ memberitahukan, bahwa Dia akan memberikan hidayah kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan keselamatan. Dia mengeluarkan hamba-hamba-Nya yang beriman dari gelapnya kekufuran dan keraguan, menuju cahaya kebenaran yang sangat jelas, terang, mudah dan bersinar terang.
Sedangkan, pelindung bagi orang-orang kafir adalah syaithan yang menjadikan kebodohan dan kesesatan itu indah dalam pandangan mereka, serta mengeluarkan mereka dari jalan haq menuju kekafiran dan kebohongan.” Selesai.
Orang mukmin adalah orang pilihan Allah ﷻ
Sampai disini, dapat fahami bahwa orang mukmin itu sebenarnya adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah f–berkat karunia-Nya yang agung–.
Orang mukmin adalah orang yang telah mendapatkan nikmat yang sangat besar berupa petunjuk dan taufik dari-Nya, sehingga mereka dapat berjalan diatas jalan yang haq, berdasarkan Kitab-Nya dan karena hidayah-Nya kepada hatinya ia dapat melaksanakan seluruh keta’atan kepada-Nya dengan disertai keikhlasan dan keridhaan.
Lalu, apakah tanda-tanda atau bekas-bekas taufik Allah pada diri mereka?
Tandanya adalah dengan lapangnya dada mereka terhadap penegakkan Syari’at Islam. Sebagaimana apa yang sudah lazim dikenal oleh para Ulama, bahwa baiknya keislaman seseorang itu dinilai dari sejauhmana kelapangan dadanya dalam menerima Syari’at Islam dan hukum-hukum-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS. An-Nisaa’: 65]
Adapun orang-orang kafir, mereka adalah orang-orang yang menyambut seruan-seruan syaithan menuju kepada jalan yang diliputi oleh kebohongan, kedustaan, kedengkian dan kesenangan yang indah, seraya meninggalkan petunjuk Allah ﷻ ke belakang punggung mereka. Mereka telah tergiur oleh umpan-umpan syahwat dan tipu daya dunia. Kemudian tenggelam dalam kubangan lumpur dunia yang membuat hati mereka menjadi gelap dan tersesat.
Sebagian mereka akan menyeru kepada sebagian yang lain untuk sama-sama menapaki jalan kehancuran itu dan mereka cegah dengan sekuat tenaga orang lain agar tidak berjalan diatas jalan petunjuk. Mereka sangat menginginkan kesesatan pada diri orang lain, lalu menjebak mereka agar menjadi tersesat sebagaimana mereka telah menjadi orang yang tersesat dan ingkar. Mereka jauhkan manusia dari jalan haq dan mengkiaskan jalan haq itu kepada manusia sebagai jalan kerusakan dan kehancuran, dengan kiasan yang penuh dusta dan fitnah.
Sehingga kita dapati kebanyakan umat manusia ini berada dalam perangkap tipu daya pemimpin-pemimpin kekafiran itu. Walhasil, perkara-perkara yang ma’ruf dianggap mungkar, lalu para pendusta dianggap amanah. Maka, jika hal itu sudah engkau ketahui keadaannya, sungguh saat itu engkau akan melihat kebanyakan manusia akan lebih mencintai jalan ketenaran dan kesesatan yang membinasakan, daripada jalan keimanan dan keterasingan yang menyelamatkan.
Menolak Al-Qur’an, namun hidup di negeri yang diciptakan oleh Rabb yang menurunkan Al-Qur’an
Sebagaimana Dia telah mentakdirkan kita hidup pada zaman dimana manusia merasa sudah tidak membutuhkan petunjuk-Nya, oleh karena itu kita banyak menyaksikan berbagai pertentangan dari manusia jika kita menjunjung tinggi Kitab-Nya, yaitu Al-Qur’an yang Mulia.
Sebagaimana Rasulullah Muhammad ﷺmendapatkan penentangan yang keras dari kaumnya yang telah tersesat dan tenggelam dalam lumpur kejahiliyahan, maka kitapun saat ini juga telah menyaksikan hal yang sama, bahkan dalam konteks yang lebih luas. Yaitu dalam konteks kehidupan jahiliyah modern dan kebanyakan manusia merasa berada diatas petunjuk dengan menjadikan hukum selain dari Al-Qur’an.
Taukah antum, bahwa semua orang tentu sepakat bahwa dunia ini adalah ciptaan Allah ﷻ Namun orang-orang tidak mau sepakat jika mereka harus hidup diatur dengan hukum Allah ﷻ Mereka akan menentang argumen seperti itu, walaupun mereka mengakui kalau mereka juga diantara ciptaan Allah ﷻ itu sendiri.
“Kita hidup dilingkungan yang tidak homogen, ada banyak keyakinan agama disini,” kata mereka.
Padahal, Rasulullah adalah Nabi yang diutus kepada umat yang mana mereka adalah keturunannya para Nabi, yaitu Bani Israil dan juga kepada umat manusia seluruhnya secara umum. Namun, tiada pilihan lain bagi umat-umat tersebut kecuali harus Islam dan mengakui hukum Allah ﷻ
Jika kita membaca sejarah, kita akan mengetahui bahwa setiap pilihan dan tawar-menawar yang dilakukan orang-orang musyrik kepada Nabi ﷺ semuanya ditolak oleh beliau.
Tapi anehnya, umat-umat manusia hari ini terus mengulang-ulang sikap tawar-menawar atas Syari’at Islam dengan argument-argumen lemah dan bathil. Agar mereka dapat meraih kebebasan dan kemerdekaan dari aturan Syari’at dan agar mereka dianggap sebagai pihak yang tidak boleh dipaksa untuk diatur oleh Syari’at. Tentu saja dengan menggunakan dalil yang tidak pada tempatnya, misalnya “Laa ikraaha fiddien”.
Patut diakui, bahwa para penentang Islam hari ini rupanya lebih cerdik ketimbang para penentang Islam di kalangan kafir Quraisy dahulu. Karena orang-orang musyrik dahulu lebih jelas pendiriannya dalam urusan sikap. Jika mereka tidak sependapat maka mereka lantang untuk menolak. Jika kalimat, “Laa ilaaha illallah” itu menuntut konsekuensinya harus tunduk pada Syari’at Islam, maka mereka tidak mau mengucapkannya barang sekalipun. Walaupun mereka ditawari kunci-kunci kekuasaan bagi seluruh orang Arab dan ‘Ajam, kalau itu bertentangan dengan prinsip mereka, maka sikap mereka tegas untuk menolak.
Sedangkan orang-orang pada hari ini tidak berpendirian yang tegas dan sangat mudah mengucapkan kalimat Tauhid, bahkan mampu mengucapkannya ratusan kali. Namun, dalam prakteknya mereka menolak keras penerapan dan implementasi atas Syahadatnya.
Maknanya, pertentangan mereka terhadap Islam tidak dilakukan secara vulgar, dan inilah tipu daya yang sangat membahayakan kaum muslimin seluruhnya. Karena orang-orang itu menyembunyikan kebenciannya kepada Islam. Mereka masih memberi jalan untuk dilestarikannya Al-Qur’an jika hanya sebatas bacaannya dan musabaqahnya. Sah-sah saja menurut mereka Al-Qur’an dijadikan sebagai sarana diangkatnya sumpah jabatan.
Namun, jauh dari semua itu, mereka sangat menentang jika Al-Qur’an ini dijunjung tinggi dan diimplementasikan oleh seluruh pemeluknya. Mereka akan menyatakan genderang perang akbar kepada siapa saja yang membawa Al-Qur’an ke ranah publik dan mengimplementasikannya.
Mereka tangkap, mereka bunuh dan mereka penjarakan setiap orang yang ahli di bidang Al-Qur’an. Bagi mereka, Al-Qur’an boleh ada tapi tidak boleh direalisasikan. Mereka menentang Ahlul Qur’an, namun mereka mengklaim tidak memusuhi Al-Qur’an. Mereka merasa lebih berhak mengatur hukum Negara dengan gaun-gaun demokrasi mereka, seraya merendahkan Ahlul Qur’an yang berjalan diatas petunjuk Allah ﷻ Inilah suatu hal kontradiktif yang telah terjadi saat ini.
Pertentangan kepada Ahlul Qur’an tentu tidak mereka wujudkan dalam ungkapan yang lugas, sehingga orang-orang yang polos tidak mengerti kedengkian musuh-musuh Allah ﷻ terhadap Al-Qur’an yang haq ini. Mereka memahami dengan baik, jika hal itu dilakukan secara lugas, tentu banyak sekali orang yang akan menjadi pembela terdepan bagi Al-Qur’an ini.
Akan tetapi, musuh-musuh Allah ﷻ dari kalangan munafik, zindiq, pendengki dan kaum kuffar selalu menciptakan berbagai tipuan untuk membungkus penentangan mereka terhadap Al-Qur’an. Permusuhan mereka kepada Al-Qur’an yang sebenarnya begitu sengit, namun menjadi samar bagi orang-orang awam. Karena ujaran kebencian mereka terhadap Al-Qur’an itu dilakukan secara merdu, namun mengandung racun yang membinasakan dan mematikan.
Misalnya dengan kata-kata, “Jangan negarakan agama dan jangan agamakan Negara,” atau ucapan, “Setiap warga Negara berhak sepenuhnya mengatur urusan pribadi mereka masing-masing.” Mereka lupa, bahwa bumi yang mereka pijak adalah bumi yang menurunkan Al-Qur’an!
Ketika bala tentara kekafiran itu menangkap dan memberangus Ahlul Qur’an yang meninggikan Kalimat Haq, orang-orang polos dari umat Islam tidak akan pernah terpicu amarahnya. Mengapa?
Karena, tentara-tentara kekafiran itu menggandeng orang-orang yang menggunakan “baju ijtihad” sebagai kostum untuk menutupi keingkaran mereka kepada Al-Qur’an dan Hukum-hukum-Nya. Mereka gunakan “ulama bersertifikat” untuk membungkam pemuda dan ustadz yang mengangkat kemuliaan Al-Qur’an dengan menerapkannya. Mereka tuduh orang-orang ‘alim sebagai musuh “negara” kesatuan mereka.
Mereka telurkan fatwa-fatwa, ibarat peluru-peluru kendali yang memiliki daya ledak lebih merusak daripada bom-bom nuklir.
Jika mata kita menyaksikan dampak kerusakan bom nuklir pada suatu bangunan atau tempat, maka jelaslah kerusakannya, korbannya dan dapat ditelurusi siapa pelakunya. Namun dengan senjata “fatwa” yang digunakan oleh para thagut, kerusakannya tidak terkontrol dan dapat melintasi waktu. Korbannya pun sangat luas dan penumpahan darah di dalamnya dapat diabaikan oleh kebanyakan orang. Dapat dianggap sebagai sesuatu yang halal!
Kita telah mengetahui dengan baik, ketika Ahlul Qur’an dan pembelanya dibunuh dan ditumpahkan darahnya, para keledai ilmu dari ulama suu’ berkata kepada umat Islam, “Mereka adalah orang-orang yang menentang ‘waliyul amri’, sehingga layak untuk dibunuh.” Padahal, makna “waliyul amri” yang mereka maksud adalah para tiran dan thagut, yang mengajak pada penentangan terhadap Syari’at Islam.
Ketika mereka diajak, “Marilah kita kepada perintah Allah ﷻ dan Rasul-Nya,” maka mereka akan menjawab, “Cukuplah kami mengikuti ajaran bapak-bapak kami yang berjalan diatas agama demokrasi (thagut), kitab Undang-undang dan hukum positif. Toh, tidak ada buruknya kita melakukan hal itu (menurut klaim mereka) dan tidak ada salahnya kita berdamai dengan semua orang meskipun berbeda agama. Toh, kita sama-sama mencintai perdamaian dan membenci permusuhan. Bukankah Islam juga menyukai perdamaian dan membenci permusuhan?” dan berbagai klaim-klaim dusta mereka yang lainnya.
Ketahuilah, dibalik ucapan indah itu, ada nada kebencian yang mendarah daging dan mengalir dalam setiap urat nadi mereka kepada Ahlul Qur’an dan para Anshar-Nya. Karena itu, mereka sangat membenci dengan kebencian yang kesumat, jika kaum muslimin bangkit menghunuskan pedang kepada siapa saja yang melemparkan olok-olokkan kepada Al-Qur’an dan menerapkan hukum-hukum-Nya. Keta’atan kaum muslimin kepada Allah ﷻ untuk membunuh penghina Al-Qur’an, dianggap sebagai pelanggaran hukum berat bagi orang-orang munafik dan kafir.
Tidak henti-hentinya ungkapan-ungkapan indah mereka sebar-luaskan ke publik untuk menutupi kekafiran mereka terhadap Al-Qur’an. Padahal, publik sudah menyadari betapa besar kebencian mereka terhadap Al-Qur’an. Mereka pada hakikatnya sangat membenci semua itu, karenanya mereka lebih cenderung kepada hukum selain Al-Qur’an, yaitu dalam rangka untuk menghindar darinya dan menyelamatkan kekufuran yang selama ini mereka anut.
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّنَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىبَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا.
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain Zukhrufal Qaul (perkataan-perkataan yang indah-indah) untuk menyesatkan (manusia).” [QS. Al-An’am: 112]
Ibnu Katsir t berkata, “Maknanya, sebagian dari syaithan-syaithan itu menyampaikan kepada sebagian yang lainnya dengan kata-kata indah dan mempesona. Yaitu, dibumbui dengan hal-hal yang menarik yang dapat memperdaya para pendengarnya yang tidak faham tipu dayanya.”
Demikianlah, upaya-upaya halus yang digencarkan oleh orang-orang kafir sejak dahulu. Dengan adanya ungkapan-ungkapan mempesona yang dihiasi oleh hujjah-hujjah yang bathil, telah membuat orang-orang awam tertipu dan terperdaya. Sehingga menaati setiap produk-produk pemikiran yang ditelurkan oleh para pembesar mereka.
Dari medan tipu daya menuju medan pertempuran
Mereka langsungkan genderang perang ini ke seluruh tempat di penjuru bumi, baik di timur maupun barat. Mereka kerahkan seluruh tentara, seluruh perangkat mekanik dan non mekanik untuk menggilas Ahlul Qur’an dan para Anshar-Nya dari kalangan kaum mukminin.
Setiap tempat dipantau, diawasi. Dari sudut kota dan desa. Dari keramaian pasar hingga di keheningan hutan. Mereka kejar Ansharullah (para penolong Allah) yang menghendaki agama-Nya tegak, walau di sejengkal tanah.
Orang-orang kafir tidak menyisakan sepetak tanahpun dari bumi Allah ﷻ yang sangat luas ini, bagi kaum muslimin yang menghendaki hukum dan Syari’at-Nya tegak. Tak ada barang sejengkal tanahpun. Padahal bumi, langit dan diantara keduanya adalah milik Allah ﷻ
Semua tempat diklaim dan didominasi oleh orang-orang yang menolak tunduk (kafir) kepada Allah dan Kitab-Nya!
Jika ada yang terlewat, maka mereka pasti akan menghabisinya walau dengan cara apapun.Sebagaimana ketika mereka melihat ada benih-benih generasi Islam yang mengontrol sepetak tanah dan mengusung tingginya hukum Allah ﷻ dan Syari’at-Nya, niscaya akan marah orang-orang jauh dan dekat.
Maka datanglah dan dihimpunlah orang-orang asing yang berasal dari berbagai tempat, yang muda maupun tua. Untuk merobohkan pilar-pilar Syari’at Allah ﷻ dan Daulah yang berdiri diatas Manhaj Nubuwah. Mereka datang berbondong-bondong dan bahu membahu untuk menyatakan permusuhan kepada Ahlul Qur’an. Padahal, sebelumnya mereka tidak memiliki urusan dan kepentingan apa-apa, kecuali karena ambisi untuk mengenyahkan benih-benih bangkitnya Islam dan Daulahnya.
Dan kita telah menyaksikan dengan sangat gamblang bagaimana permusuhan seluruh umat manusia pada hari ini pada berbagai sisinya, terhadap kubu keimanan yang menginginkan tegaknya Al-Qur’an dan hukum-hukum-Nya. Khususnya setelah tegaknya Daulah Islam yang cabangnya berada di berbagai belahan dunia.
Maka, keadaan-keadaan manusia terinduksi satu dengan yang lain, sehingga semakin mengerucut antara kubu keimanan dan kubu kebathilan. Makin nampaklah kedok-kedok busuk yang dahulu tertutup rapat. Makin jelas pula siapakah yang mengambil peran sebagai Ansharullah dan jujur diatas janjinya dan jelas pula siapa yang mengambil peran sebagai musuh-Nya dan musuh bagi agama-Nya.
Demikianlah keadaan umat manusia secara umum. Inilah realita permusuhan yang dihadapi oleh para Nabi-nabi terdahulu.
Pengusiran dan permusuhan dari berbagai golongan yang ingkar adalah tantangan utama yang harus dihadapi. Di tempat kelahirannya, mereka tidak diberikan sejengkal tempatpun di muka bumi ini. Mereka terus dikejar, diburu dan tidak dibiarkan oleh orang-orang kafir untuk bisa menguasai sepetak tanah untuk ditegakkan padanya hukum Allah ﷻ
Padahal, sungguh bumi Allah ﷻ itu sangatlah luas…
Musuh-musuh Allah ﷻ mengetahui apa visi perjuangan kaum mukminin dan apa tujuan jihad mereka. Orang-orang kafir juga telah memahami bahwa Syari’at yang ditegakkan kaum muslimin bagaikan “penjajahan” hawa nafsu. Oleh karena itu mereka berupaya dengan sekuat tenaga untuk membatasi sekuat tenaga keadaan kaum muslimin dan mengawasi seluruh gerak-gerik mereka.
Sehingga, ketika Daulah Islam kembali tegak di zaman ini, maka musuh-musuh Allah (orang-orang kafir dan munafik) berusaha keras untuk menghalangi siapa saja yang hendak hijrah ke wilayah Daulah Islam. Maka bangkitlah orang-orang kafir, munafik, zindik dan ulama bayaran untuk saling bahu-membahu membuat tipu daya yang licik. Dengan kata-kata indah, namun membinasakan. Agar Daulah Islam yang mengangkat panji Allah ﷻ dan menegakkan hukum-Nya dibenci oleh semua orang, bahkan oleh mereka yang mengakui dirinya sendiri sebagai seorang muslim sekalipun.
Dua kubu tentara yang saling berlawanan
Ketika benang yang hitam nampak diantara sekumpulan benang yang putih dan ketika lalat itu pergi meninggalkan lebah yang dipenuhi oleh madu. Maka demikianlah keadaan orang-orang yang berhati kotor pergi dan memilih hinggap dalam kubangan lumpur nanah dan hawa nafsu.
Barisan-barisan yang memiliki misi saling bertentangan akan menjauh dan memisahkan diri. Mereka akan bergabung kepada kelompok yang memiliki kesamaan tujuan dan cita-cita. Mereka laksana burung dan kawanan hewan gembala, yang tidak mungkin akan berinteraksi kecuali kepada sesama jenisnya.
Setiap kelompok memiliki tentara dan penolong untuk mengisi sela-sela barisan mereka. Mereka himpun berbagai jenis kekuatan untuk membela keyakinan dan ideologi mereka dan untuk mempersiapkan tentara yang siap terjun dalam pertempuran yang digelar di berbagai medan.
Setiap anggota akan saling menopang anggota yang lain. Setiap tentara diantara mereka saling tolong-menolong satu dengan yang lainnya. Dengan begitu, mereka dapat melanggengkan keyakinan mereka dan memiliki daya untuk melawan dan melenyapkan singgasana lawannya. Pertempuran dan permusuhan abadi ini akan terus berlangsung hingga hari kiamat, atau hingga Allah ﷻ memutuskan urusan-Nya bagi hamba-hamba-Nya.
Bagi kubu keimanan, tidak ada pilihan yang lain bagi mereka kecuali akan menjadi tentara dan penolong-Nya yang siap bertempur di jalan-Nya, untuk meninggikan Kalimat-Nya dan membela orang-orang yang lemah dari kaum mukminin yang menghendaki hidup di bawah Syari’at Islam. Sedangkan kubu kekafiran, mereka pun siap berperang untuk membela para pemimpin thagut mereka yang kafir, yaitu syaithan dari jenis manusia dan jin. Serta, dalam rangka untuk mempertahankan ideologi mereka yang rapuh dan kotor.
Dan firman Allah ﷻ
“Orang-orang mukmin berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah.” [QS. An-Nisaa’: 76]
Ibnu Katsir t berkata, tentang firman Allah ﷻ diatas, “Orang-orang mukmin berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut…’ Maknanya, orang-orang mukmin itu berperang dalam rangka ta’at kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya. Sedangkan orang-orang kafir berperang dalam rangka ta’at kepada Syaithan. Kemudian Allah ﷻ mendorong kaum mukminin untuk memerangi musuh-Nya dengan firman-Nya, ‘…Sebab itu perangilah kawan-kawan syaithan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaithan itu adalah lemah’.” Selesai.
[1] Persoalan ini telah dijelaskan secara mendetail oleh Ibnu Qayyim t dalam Ighasatul Lahfan.
والله أعلم بالصواب
Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya
Baarakallahu fiikum … .
(P8)
Dikutip “NgajiBersama”
https://t.me/joinchat/SmNkW6xGaj6lmi_O
Tentang Teori Bumi Berputar
Bantahan atas Teori Bumi Berputar
Oleh Syaikhuna al-Mujahid Turki bin Mubarak al-Bin‘ali & diterjemah oleh Akh M. Angga ghafarallahu la huma
Al kawakib (bintang atau planet-planet) bertempat pada sesuatu yang tinggi, sedangkan bumi bertempat pada sesuatu yang rendah. Setiap sesuatu yang turun dari langit, maka jatuhnya di atas bumi. Di antara sifat al kawakib yang diberitakan oleh Allah, ia merupakan perhiasan dari langit dunia dan ia diciptakan untuk merajam setan-setan. Jadi bagaimana mungkin bumi merupakan alat rajam bagi para setan?
Allah Ta‘ala berfirman,
إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ
“Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia dengan hiasan al kawakib.”
وَحِفْظًا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ
“Dan (Kami) telah menjaganya dari setiap setan yang durhaka.” (QS. Ash Shaffat: 6-7)
Jika telah diketahui bahwa al kawakib adalah perhiasan untuk langit, maka diciptakan-Nya perhiasan terlebih dahulu sebelum adanya sesuatu untuk dihias, maka Allah Subhanahu wa Ta‘ala menciptakan bumi kemudian baru menciptakan langit.
Allah Ta‘ala berfirman,
قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam.’”
وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ
“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat hari genap. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.”
ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ
“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’” (QS. Fushshilat: 9-11)
Turjumanul Quran ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘an huma berkata dalam Shahih Al Imam Al Bukhari,
إن خلق الأرض كان قبل خلق السماء، وأن دحيها كان بعد خلق السماء
”Sesungguhnya penciptaan bumi adalah sebelum penciptaan langit dan penghamparannya adalah setelah penciptaan langit.”
Imam Ibnu Katsir rahimahullahu Ta‘ala berkata dalam kitab beliau berjudul Al Bidayyah wan Nihayyah (1/13),
فهذا يدلّ على أن الأرض خُلقت قبل السماء؛ لأنها كالأساس للبناء، وكما قال تعالى: (اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً) [غافر: 64]
“Maka inilah dalil yang menunjukkan bahwa bumi tercipta sebelum diciptakannya langit karena bumi itu bagaikan pondasi dari sebuah bangunan, sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman, ‘Allah-lah yang menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap.’ (QS. Ghafir: 64)”
Dan dengan ini, jelaslah kebatilan pendapat yang mengatakan bahwa bumi berputar menurut beberapa ilmuwan perbintangan yang berdalil dengan firman Allah Ta‘ala,
وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
“Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”
Dikarenakan bumi itu tidak termasuk ke dalam al kawakib, sebagaimana yang telah kami katakan.
Diterjemahkan dari Mukhtashar al-Lafazh fi Masalah Duran al-Ardh, hlm. 13-14.
Resume Kajian Tafsir Tauhid
*TAFSIR TAUHID*
*RESUME KAJIAN ILMIAH*
Sabtu Siang, 07 Jumadal Akhirah 1441 / 01 Feb 2020
(Kajian Rutin Insya Allah Setiap Sabtu Pertama Ba’da Zhuhur)
Pemateri: *Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc حَفِظَهُ اللهُ تعالى*
Di Masjid Nurul Amal, Jl. AUP Raya no. 1A, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Kitab Tauhid Bab 6 *”Tafsir Tauhid dan Syahadat Laa Ilaaha Illallaah”*
Penulis: *Asy-Syaikh Muhammad At-Tamimi رَحِمَهُ اللهُ تعالى*
*MUQODDIMAH*
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ. ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.
Memasuki bab 6, ini adalah bab pertama yang membahas rincian makna tauhid, sedangkan bab sebelumnya adalah pengantar makna tauhid, pentingnya tauhid, dan bahaya syirik.
Janganlah perkataan mereka membuat engkau sedih
بسم الله الرحمن الرحيم
📜|| Janganlah Perkataan Mereka Membuat Engkau Sedih ||
Sebagaimana para Nabi ‘Alaihimussalam dituduh sebagai pendusta, tukang sihir dan orang gila, oleh orang-orang Musyrikin, maka para pengikut mereka diuji lewat orang-orang Kafir dan Murtaddin dengan bermacam tuduhan miring, untuk menghalangi dari jalan Allah Ta’ala dan melegalkan perang mereka terhadap orang-orang yang mendapat petunjuk. Begitulah yang dialami oleh pasukan Daulah Islam -semoga Allah Ta’ala menguatkan mereka-, dari sejak di deklarasikannya.
Continue reading “Janganlah perkataan mereka membuat engkau sedih”



