“Penjelasan Kaedah Barang Siapa Tidak Mengkafirkan Orang Kafir Maka Dia Kafir”
بالنِّسبة لقاعدة “مَن لم يكفر الكافر فهو كافر”،
مَتى يكفر من لم يكفر الكافر؟
Adapun masalah kaedah “Barang siapa tidak mengkafirkan orang kafir maka dia telah kafir”, yakni kapankah seseorang menjadi kafir ketika dia tidak mengkafirkan orang kafir?
- هذا فيه تفصيل والأقسام في ذلك سبعة:
Masalah ini terdapat rinciannya, terdapat 7 bentuk keadaan dalam masalah ini :
١• مَن لم يكفر اليهود والنصارى والمشركين سواء كان بنوعهم أو بأعيانهم، فهذا كافر لتكذيبه بالمقطوع به.
- Barang siapa tidak mengkafirkan yahudi, atau nashoro dan orang-orang musyrik, (mau takfir mutlak ataupun mu’ayyan) maka dia telah kafir dikarenakan mendustakan apa yang telah jelas dan pasti(qoth’i) disebutkan di dalam nash-nash(alqur’an dan sunah)
٢• مَن لم يكفر المنتقل إلى مِلَّة أصلِيَّة كرجل مسلم انتقل إلى يهودِيَّة أو إلى نصرانية أو إلى مجوسِيَّة ولم يكفره، فهذا كافر لأنه مُكذِّب بالمقطوع به.
- Barang siapa tidak mengkafirkan orang yang murtad pindah ke agama lain, seperti seorang muslim yg telah murtad dan menjadi seorang yahudi atau nashroni atau majusi dan tidak dikafirkan maka dia(yg tidak mengkafirkan) dihukumi telah kafir disebabkan mendustakan apa yang bersifat pasti/paten(qoth’i) di dalam syariat islam.
٣• مَن أتى بناقض مُجمع عليهِ وقامَت عليه الحُجَّة وانتفت عنه الشبهة ولم يكفره رجل لا لشبهة ولا لتأويل, وإنَّما كان هذا لهوى أو لعدم مُبالاة فهذا أيضًا كفر في من لم يكفر الكافر فهو كافر.
- Barang siapa melakukan salah satu pembatal keislaman yg telah disepakati, dan juga telah tegak hujjah padanya, telah hilang syubhat yg ada di dalam dirinya lalu tidak dikafirkan (bukan karena alasan adanya syubhat atau ta’wil) melainkan tidak dikafirkan karena hawa nafsu, atau ketidak adanya perhatian(masa bodoh) maka orang tersebut(yg tidak mengkafirkan) dihukumi telah kafir sesuai kaedah “barang siapa tidak mengkafirkan orang kafir maka dia kafir”.
٤• مَن لم يكفر المرتكب لناقض لشبهة قامت عنده إمَّا لاعتقاده أن الحجة ما قامت عليه أو أنَّ الشروط ما توفَّرت فيه فهذا لا يكفر بالإجماع.
- Barang siapa tidak mengkafirkan setiap orang yg melakukan pembatal keislaman dengan alasan udzur syubhat yg ada pada diri pelaku pembatal keislaman; bisa disebabkan belum datang hujjah kepada si pelaku atau disebabkan syarat-syarat vonis kafir belum terpenuhi, maka dia(yg tidak mengkafirkan) tidak dihukumi kafir dan hal ini ijma’
٥• مَن لم يكفر الكافر لبدعة عنده (كالمرجيّ الذي يقيد نواقض الإسلام بالاعتقاد أو الجحود أو الإستحلال) فهو لم يكفر الكافر لشبهة البدعة عنده، فهذا لا يكفر بالإتفاق, لأنه لو كفر هذا
لكفرت جميع طوائف أهل البدع من المرجئة والأشاعرة والكرامية و السالمية وجميع هذه الطوائف؛ ولا قائل بهذا القول.
- Barang siapa tidak mengkafirkan seseorang yg kafir dengan alasan kebid’ahan yg dimiliki(semisal bid’ah murji’ah yg mensyaratkan pembatal keislaman harus berdasarkan juhud dan istihlal yakni hatinya mengingkari atau meridhoi halalnya atau haramnya amalan yg dikerjakan) sehingga dia tidak mengkafirkan disebabkan adanya penghalang yaitu bid’ah yg dimilikinya, maka orang tersebut(yg tidak mengkafirkan) tidak dihukumi kafir dan ini muttafaq(telah disepakati), karena kalau seandainya dia kafir, maka kelompok lainnya dari kalangan ahli bid’ah; murji’ah, asya’iroh, karromiyyah, saalimiyyah, dan semua kelompok-kelompok ahli bid’ah lainnya harus dihukumi kafir juga -dan pendapat ini tidak ada wujud orang yg menyatakannya-
٦• مَن لم يكفر المختلف فيه سواء من النوع أو من العين كتارك الصلاة والساحر ونحوه،
وهذا له حالتين:
الأولى: أن لا يُكفِّره لأنَّه عمل من الأعمال
(وهذا قول أهل البدع) لا يكفر قولًا واحِدًا.
- Barang siapa tidak mengkafirkan orang yang diperselisihkan keadaanya, mau takfir mutlak atau mu’ayyan; semisal orang yg meninggalkan sholat, atau penyihir dll, maka kasus ini terdapat dua macam hukum(keadaan) :
•Pertama : Tidak mengkafirkannya dengan alasan meninggalkan sholat adalah bentuk dari amalan, dan seseorang tidak ditakfir disebabkan hanya sebuah amalan. Pendapat ini adalah ucapannya ahli bid’ah dan dia tidak ditakfir -dan di keadaan ini hanya ada 1 pendapat ini saja-.
الثَّانِية:
أن لا يكفر بحكم الموازنة بين الأدلة فهذا لا يكفر بالإتفاق، ولأنَّه لو كفر هؤلاء لكفر الأئمة الاربعة وكفر أكابر علماء السلف كالزهري وغيره..ولا قائل به.
•Kedua : Tidak mengkafirkannya dengan alasan muwaazanah(menimbang) antara dalil-dalil para ulama dalam masalah tersebut (hukum meninggalkan sholat) maka orang tersebut sesuai kesepakatan ulama tidak dihukumi kafir. Karena jika dikafirkan maka empat imam mazhab juga harus kafir dan juga mereka para ulama kibar salaf seperti az-Zuhriy dll dihukumi kafir. -dan tidak ada seorangpun yg menyatakan hal demikian-
ومن ثم اختلف أئمة السلف في الخوارج
اختلف أئمة السلف في المعتزلة، اختلف أئمة السلف في الأعيان كالحجاج مثلًا ولم يكن بعضهم يكفر بعضًا بل ولا كان بعضهم يبدع بعضًا!.
Maka dari itu, para ulama salaf berselisih di dalam pengkafiran kelompok khowarij, begitu pula muktazilah. Dan juga para ulama salaf berbeda pendapat di dalam pengkafiran beberapa nama orang secara ta’yin semisal al-Hajjaaj. Dan sikap mereka tidak ada yg saling mengkafirkan di dalam perbedaan ini, bahkan tidak ada dari mereka yg saling membid’ahkan satu sama lainnya!
لأنَّ هذا نتيجة تأويل ونتيجة اجتهاد،.فهؤلاء الصَّحابة اختلفوا في كفر الخوارج، ولا قال الذي يكفرونهم للذين لا يكفرونهم أنتم مرجئة،
ولا قال الذين لا يكفرونهم للذين يكفرونهم أنتم خوارج!.
Hal ini dikarenakan bahwa masalah ini(perbedaan hukum terhadap status meninggalkan sholat) muncul disebabkan adanya takwil dan ijtihad, lihat saja seperti sikap para sahabat di dalam masalah khowarij, mereka berbeda pendapat, dan tidak ada seorangpun yg (bermazhab) mengkafirkan khowarij lantas menuduh orang yg tidak mentakfirnya(tidak mengkafirkan khowarij) sebagai murji’ah.
Dan pula tidak ada dari mereka yg tidak mentakfir menuduh yg mentakfir sebagai khowarij!
وهذا الحسن البصري وعمر بن عبد العزيز ومجاهد كانوا يكفرون الحجاج بن يوسف ويرونه مرتدًا
Lihat al-Hasan al-Bashri, Umar bin Abdil ‘Aziz, dan Mujaahid mereka bersikap untuk mentakfir al-Hajjaaj bin Yusuf dan menganggapnya telah murtad.
وكان مُحمد ابن سيرين وطائفة لا يرون كفره
ومع ذلك لم يكن يضلل بعضهم بعضًا وما كفر بعضهم بعضًا لأن هذا كان عن اجتهاد ولأن كل واحد يعتقد هل توفرت فيه الأدلة المقتضية لكفره أو الآخر يقول.
Sedangkan Muhammad Bin Sirriin dan kumpulan ulama lainnya tidak berpendapat atas kafirnya al-Hajjaaj, dan tidak ada dari mereka yg menyatakan sesat terhadap lawan beda pendapatnya, dan tidak ada saling mengkafirkan, karena hakekatnya masalah ini dibangun berdasarkan ijtihad, dan juga disebabkan setiap kelompok berusaha meyakini sudahkah terpenuhi syarat-syarat yg menyebabkan pelakunya kafir ataukah belum.
فمن ثم اختلفوا وما كفر بعضهم بعضًا بل ما بدع بعضهم بعضً بل ما هجر بعضهم بعضًا فضلًا عن التبديع فضلًا عن التكفير
Maka dari sinilah mereka berbeda pendapat, dan tidak ada dari mereka yg saling mengkafirkan satu sama lain, bahkan tidak juga saling membid’ahkan, dan tidak juga yg lebih ringan saling menghajr(mendiamkan) satu sama lain..Jika tidak mendiamkan satu sama lainnya, tidak pula membid’ahkan apa lagi yg lebih besar mengkafirkan.
٧• أن يكون ذلك في الطوائف المتفق عليها ثم ينازع شخص في أعيانهم لا في نوعهم
يعني يقول أنا أوافق على تكفير النوع لكن ما أوافق على تكفير العين، والإجماع قد انعقد على النوع ولم ينعقد على العين.
فهذا أيضًا لا يكفر لأنه ما كذب بمقطوع به ومن شروط التكفير أن يكذب بمقطوع به، والمقطوع به النوع دون العين.
أما لو كذب بالمقطوع حتى بالعين كما تقدم في القسم الثاني وتقدم في القسم الثالث فإنه يكفر لأن ذلك مقطوع به وهذا غير مقطوع به.
- Terakhir adalah masalah takfir kelompok yang disepakati kekafirannya, akan tetapi diperdebatkan kekafirannya secara mu’ayyan(tunjuk hidung), adapun secara mutlak maka tidak diperselisihkan dalam pengkafirannya.
Maksudnya misalkan dikatakan : “saya sepakat atas kekafiran mereka secara mutlak, akan tetapi untuk setiap individu secara ta’yin(tunjuk hidung) saya tidak sepakat, dan ijmak telah sah utk takfir mereka secara mutlak, adapun secara ta’yin maka belum terdapat ijmak”
Keadaan seperti(org yg tidak mentakfir secara ta’yin) ini tidak bisa untuk dikafirkan, karena hal ini belum sampai mendustakan hal yg bersifat qoth’i(bersifat pasti/paten), karena salah satu syarat takfir adalah mentakfir dengan dasar alasan pendustaan terhadap hal yg qoth’i, dan yg disepakati dalam masalah ini adalah yg bersifat qoth’i yaitu takfir mutlaknya dan tidak secara ta’yin.
Akan tetapi, jika seseorang mendustakan hal yang bersifat qoth’i, bahkan jika hal tersebut datang dalam sifat ta’yin(penyebutan secara tunjuk hidung) hal ini sama seperti di keadaan nomer 2 ataupun nomer 3 maka orang tersebut dikafirkan karena hakekatnya telah mendustakan sesuatu yg bersifat qoth’i sedangkan yg sebelumnya tidak dikafirkan karena tidak qoth’i
فهذه سبعة أقسام في مسألة من لم يكفر الكافر فهو كافر.
inilah tujuh keadaan untuk masalah kaedah “Barang siapa tidak mengkafirkan orang kafir maka dia kafir”
📋 فتاوى الشيخ العلوان
📋Fatawaa Syaikh Sulaiman al-Ulwan
Sumber teks arab : Kanal Fatawaa Syaikh al-‘Ulwan
Alih bahasa : Abu Musa al-Mizzy