Sebab sebab kekafiran pemerintah

. ●┈»̶•̵̌✽ஜ ஜ✽•̵̌«̶┈●

════════════════════════
Kekafiran pemerintah ini bukan hanya dari sisi karena tidak memberlakukan (syariat) Islam dan menggantinya dengan hukum buatan saja, akan tetapi telah kafir dari banyak sisi yang di antaranya:
════════════════════════


Mereka Menjadi Thaghut


Kenapa demikian?, ini karena mereka dengan dewan legislatifnya dan sebagian eksekutifnya mengklaim sebagai pembuat hukum, mengklaim yang berhak membuat hukum dan perundang-undangan, bahkan mereka telah membuat dan memutuskan, maka mereka adalah thaghut itu sendiri. Mereka menjadi pembuat hukum yang hukumnya diikuti (baca: diibadati) oleh ansharnya.

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ﺃَﻟَﻢْ ﺗَﺮَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺰْﻋُﻤُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺁﻣَﻨُﻮﺍْ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻚَ ﻳُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﺃَﻥ ﻳَﺘَﺤَﺎﻛَﻤُﻮﺍْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕِ ﻭَﻗَﺪْ ﺃُﻣِﺮُﻭﺍْ ﺃَﻥ ﻳَﻜْﻔُﺮُﻭﺍْ ﺑِﻪِ

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu.” (QS. An Nisa: 60)

Banyak masyarakat atau anshar thaghut atau siapa saja di antara mereka, ketika memiliki kasus di negeri ini, apakah mereka mengajukan kasusnya kepada hukum Allah ataukah kepada hukum selaim hukum Allah? Tentu mereka mengajukannya kepada hukum selain hukum Allah, yang mana hukum itu dibuat oleh para thaghut tadi di gedung Palemen, baik yang ada di lembaga legislatif atau lembaga eksekutif maupun para pemutusnya di dewan yudikatif.

Mereka adalah thaghut, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab rahimahullah dalan Risalah Fie Ma’na Thaghut , bahwa pentolan thaghut yang kedua adalah “Penguasa Dzalim Yang Merubah Ketentuan Allah” . Sedangkan di negeri ini, semua hukum Allah dirubah… mulai dari hukum pidana, perdata, ekonomi, dan lain-lain. Semua dicampakkan dan mereka sepakat tidak memakai hukum yang Allah turunkan, sedangkan sesorang tidak bisa dikatakan sebagai orang muslim kecuali bila kafir kepada thaghut. Dan bagaimana mereka bisa dikatakan muslim dan mereka berlepas diri dari thaghut sedangkan dalam hal ini mereka sendiri adalah thaghutnya…??!

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ﺍﺗَّﺨَﺬُﻭﺍْ ﺃَﺣْﺒَﺎﺭَﻫُﻢْ ﻭَﺭُﻫْﺒَﺎﻧَﻬُﻢْ ﺃَﺭْﺑَﺎﺑﺎً ﻣِّﻦ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴِﻴﺢَ ﺍﺑْﻦَ ﻣَﺮْﻳَﻢَ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻣِﺮُﻭﺍْ ﺇِﻻَّ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﺍْ ﺇِﻟَـﻬﺎً ﻭَﺍﺣِﺪﺍً ﻻَّ ﺇِﻟَـﻪَ ﺇِﻻَّ ﻫُﻮَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At Taubah: 31)

Dalam ayat ini Allah memvonis orang Nashrani dengan lima vonis:

  1. Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib
  2. Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib
  3. Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
  4. Mereka telah musyrik
  5. Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi rabb.

Imam At Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan ‘Adiy ibnu Hatim (seorang shahabat yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), ‘Adiy ibnu Hatim mendengar ayat-ayat ini dengan vonis-vonis tadi, maka ‘Adiy mengatakan: “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah shalat atau sujud kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami”,

Jadi maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis kami telah mempertuhankan mereka, atau apa bentuk penyekutuan atau penuhanan yang telah kami lakukan sehingga kami disebut telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka? Maka Rasul mengatakan: “Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa yang Allah haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan apa yang Allah halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?” Lalu ‘Adiy menjawab: “Ya” , Rasul berkata lagi: “ Itulah bentuk peribadatan mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib) . ”

Ketika mereka menyandarkan hak hukum dan pembuatan hukum (tasyri’) kepada selain Allah, maka yang mengaku memiliki hak membuat hukum ini disebut arbab , yaitu yang memposisikan dirinya sebagau tuhan pengatur selain Allah. Saat hukum itu digulirkan dan diikuti, maka itu adalah arbab yang disembah. Orang yang sepakat di atas hukum ini atau yang mengacu atau yang merujuk pada hukum yang mereka gulirkan itu adalah orang yang Allah vonis sebagai orang musyrik yang menyembah atau mengibadati atau mempertuhankan mereka serta telah melanggar Laa ilaaha illallaah.

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ﻭَﻻَ ﺗَﺄْﻛُﻠُﻮﺍْ ﻣِﻤَّﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﺬْﻛَﺮِ ﺍﺳْﻢُ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﻔِﺴْﻖٌ ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦَ ﻟَﻴُﻮﺣُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺂﺋِﻬِﻢْ ﻟِﻴُﺠَﺎﺩِﻟُﻮﻛُﻢْ ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﻃَﻌْﺘُﻤُﻮﻫُﻢْ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﻟَﻤُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan (mewahyukan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, maka sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. Al An’am: 121)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan tentang keharaman bangkai, dan Allah juga menjelaskan tentang tipu daya syaitan. Kita mengetahui bahwa bangkai adalah haram, namun dalam ajaran orang musyrik Quraisy mereka menyebutnya sebagai sembelihan Allah.
Dalam hadits dengan sanad yang shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim rahimahullah dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu : Orang musyrikin datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Hai Muhammad, kambing mati siapa yang membunuhnya?” , Rasulullah yang mengatakan: “Allah membunuhnya (mematikannya)” , kemudian orang-orang musyrik itu mengatakan: “Kambing yang kalian sembelih dengan tangan kalian, maka kalian katakan halal, sedangkan kambing yang disembelih Allah dengan Tangan-Nya yang Mulia dengan pisau dari emas kalian katakan haram, berarti sembelihan kalian lebih baik daripada sembelihan Allah.”

Ini adalah ucapan kaum musyrikin kepada kaum muslimin, dan Allah katakan bahwa itu adalah bisikan syaitan terhadap mereka (Dan sesungguhnya syaitan itu membisikkan (mewahyukan) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu) untuk mendebat kaum muslimin agar setuju atas penghalalan bangkai, lalu setelah itu Allah peringatkan kepada kaum muslimin jika menyetujui dan mentaati mereka, menyandarkan kewenangan hukum kepada selain Allah meski hanya dalam satu hukum atau kasus saja (yaitu penghalalan bangkai) dengan firman-Nya “Maka sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”

Dalam ayat di atas Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan bahwa:

  1. Hukum yang bukan dari-Nya adalah wahyu syaitan.
  2. Para penggulirnya (yang mengklaim dirinya berhak membuat hukum) dari kalangan manusia disebut wali-wali syaitan.
  3. Yang menyetujuinya atau yang taat atau yang merujuk kepadanya disebut musyrikun.

Bila satu hukum saja dipalingkan dalam hak pembuatannya kepada selain Allah, maka berdasarkan ayat tadi, bahwa orang yang membuat hukum itu disebut wali-wali syaitan (taghut) yang telah mendapat wahyu atau wangsit dari syaitan, sedangkan orang yang mentaatinya atau setuju dengan hukum buatan tersebut adalah divonis oleh Allah sebagai orang musyrik.

Sedangkan yang ada di NKRI ─dan negara-negara lainnya─ adalah bukan satu, dua, tiga, sepuluh, atau seratus hukum saja, akan tetapi seluruh hukum yang ada di sini adalah bukan dari Allah, tapi dari wali-wali syaitan yang mendapat wahyu dari syaitan jin, baik wali-wali syaitan itu dahulunya orang Belanda (yang mewariskan KUHP) ataupun wali-wali syaitan zaman sekarang yang duduk di kursi parlemen, yang membuat, yang merancang, yang menggodok, atau apapun namanya dan siapa pun yang membuat hukum, maka pada hakikatnya mereka adalah wali-wali syaitan dan hukum yang mereka gulirkan hakikatnya adalah hukum syaitan.

Perhatikanlah… jika saja orang-orang yang SEKEDAR mentaati mereka maka Allah memvonisnya sebagai orang musyrik, maka apa gerangan dengan para pembuatnya atau orang yang memutuskan dengannya atau orang yang memaksa masyarakat untuk tunduk kepadanya dengan menggunakan besi dan api (kekuatan dan senjata)…?!!

  1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ﺃَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺷُﺮَﻛَﺎﺀ ﺷَﺮَﻋُﻮﺍ ﻟَﻬُﻢ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﺫَﻥ ﺑِﻪِ ﺍﻟﻠَّﻪ

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka dalam dien (ajaran/hukum) ini apa yang tidak diizinkan Allah?” (QS. Asy Syura: 21)

Dalam ayat tersebut, siapa saja yang membuat syari’at atau hukum atau undang-undang atau ajaran yang tidak diizinkan oleh Allah dinamakan
syuraka (sekutu-sekutu), karena mereka memposisikan dirinya untuk diibadati dengan cara menggulirkan hukum agar diikuti. Mereka merampas hak pembuatan hukum dari Allah, mereka merancang, menggodok, dan menggulirkannya di tengah masyarakat. Sedangkan orang-orang yang mentaati atau mengikuti hukum itu disebut orang yang menyembah syuraka tersebut.


Mereka berhukum dengan selain hukum Allah atau memutuskan dengan hukum thaghut


Mereka berhukum dengan hukum thaghut, karena selain hukum Allah yang ada hanyalah hukum jahiliyyah atau hukum thaghut, ini berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Maidah: 44:

ﻭَﻣَﻦ ﻟَّﻢْ ﻳَﺤْﻜُﻢ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﻧﺰَﻝَ ﺍﻟﻠّﻪُ ﻓَﺄُﻭْﻟَـﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang kafir”
Dan firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al Maidah: 50

ﺃَﻓَﺤُﻜْﻢَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻳَﺒْﻐُﻮﻥَ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺣُﻜْﻤﺎً ﻟِّﻘَﻮْﻡٍ ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Dalam ayat-ayat di atas, orang yang memutuskan dengan selain apa yang Allah turunkan adalah orang-orang kafir, sedangkan pemerintah di negeri ini tidak memutuskan dengan apa yang Allah turunkan, akan tetapi memutuskan dengan hukum thaghut. Maka mereka pun divonis kafir berdasarkan ayat-ayat seperti ini, bahkan Allah memvonis orang-orang yang seperti ini sebagai orang-orang zalim dan fasiq dalam surat Al Maidah: 45 dan 47.

Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab
rahimahullah menjelaskan dalam Risalah Fie Makna Thaghut, tentang Ruusuth Thawaghit (tokoh-tokoh para thaghut) yang ketiga yaitu: Yang Memutuskan Dengan Selain Apa Yang Allah Turunkan.
Jadi pemutus hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah adalah bukan sekedar thaghut, akan tetapi termasuk pentolan thaghut. Sedangkan iman kepada Allah tidak sah kecuali dengan kafir terhadap thaghut, lalu bagaimana mungkin Pemerintah NKRI ini dikatakan sebagai pemerintah muslim mukmin, sedangkan mereka bukan sekedar thaghut, akan tetapi salah satu tokohnya thaghut… maka mereka bukan hanya sekedar kafir, tapi amat sangat kafir!


Mereka merujuk kepada hukum thaghut, baik thaghut lokal, regional maupun internasional.


Disaat menghadapi masalah, masalah apa saja, maka pemerintah ini tidak merujuknya kepada hukum Allah, tapi kepada hukum thaghut yang bersifat lokal (seperti Undang Undang Dasar atau undang-undang atau yang lainnya), atau hukum-hukum regional, atau hukum-hukum yang ditetapkan oleh mahkamah Internasional PBB.

ﺃَﻟَﻢْ ﺗَﺮَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳَﺰْﻋُﻤُﻮﻥَ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﺁﻣَﻨُﻮﺍْ ﺑِﻤَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻧﺰِﻝَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻚَ ﻳُﺮِﻳﺪُﻭﻥَ ﺃَﻥ ﻳَﺘَﺤَﺎﻛَﻤُﻮﺍْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕِ ﻭَﻗَﺪْ ﺃُﻣِﺮُﻭﺍْ ﺃَﻥ ﻳَﻜْﻔُﺮُﻭﺍْ ﺑِﻪِ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu…” (QS. An Nisa’: 60)

Sungguh, mereka tidak merujuk kepada Al Qur’an atau As Sunnah, akan tetapi merujuk kepada selainnya. Sedangkan dalam surat An Nisa: 60 tadi, Allah merasa heran atas klaim orang-orang yang mengaku telah beriman kepada Al Qur’an dan kitab-kitab Allah sebelumnya, orang-orang yang ketika punya masalah justru ingin berhakim (mengadukan urusan) kepada thaghut. Perhatikanlah, dalam ayat tersebut sekedar ingin berhukum kepada thaghut sudah Allah nafikan keimanannya, imannya dianggap sekedar klaim dan kebohongan belaka, maka apa gerangan dengan orang-orang yang benar-benar bersumpah untuk merujuk kepada hukum thaghut…?!

Pemerintah ini, ketika masuk PBB diwajibkan untuk berikrar setuju atas segala peraturan yang digariskannya, begitu juga ketika jajaran pemerintahan dewan legislatif, eksekutif, yudikatif terbentuk, setiap orang diwajibkan bersumpah setia untuk menjalankan hukum negara, inilah syahadat mereka! inilah bai’at mereka. Apakah di Negara ini ada bai’at untuk taat setia kepada Al Qur’an dan As Sunnah ? Tentu jawabannya tidak ada ! Maka dari itu setelah bai’at kepada Undang Undang Dasar selesai, mereka selalu mengacu kepadanya. Jika seorang Presiden misalnya menyimpang, maka DPR/MPR akan memprotesnya dan mengatakan: “Presiden telah melanggar Undang Undang Dasar atau undang-undang…” dan tidak akan mengatakan: “Presiden telah melanggar Al Qur’an ayat sekian…”. Andaikata seluruh isi Al Qur’an dilanggar pun, maka mereka tidak akan mempermasalahkannya, asal tidak melanggar “kitab hukum suci” mereka, yaitu Undang Undang Dasar 1945 dan undang-undang turunannya.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa orang yang berhakim dengan hukum Allah yang telah dihapus adalah kafir, beliau menyatakan:

“Barangsiapa meninggalkan hukum yang muhkam (baku) yang diturunkan kepada Muhammad ibnu Abdillah penutup para nabi, dan dia malah merujuk hukum kepada hukum-hukum (Allah) yang sudah dihapus, maka dia kafir. Maka apa gerangan dengan orang yang mengacu kepada Ilyasa (Yasiq) dan dia mendahulukannya daripada ajaran Allah, maka dia kafir berdasarkan ijma kaum muslimin” (Al Bidayah Wan Nihayah: 13/119).

Ilyasa adalah kitab hukum yang dibuat oleh Jenggis Khan raja Tartar. Kitab ini merupakan kumpulan yang sebagiannya diambil dari Taurat orang Yahudi, Injil orang Nashrani, Al Qur’an dan ajaran ahli bid’ah, ditambah dengan hasil buah fikirannya lalu dikodifikasikan menjadi sebuah kitab yang disebut Ilyasa atau Yasiq. Para ulama muslimin sepakat mengatakan bahwa siapa saja yang merujuk kepada kitab hukum ini, maka dia kafir berdasarkan ijma kaum muslimin. Maka demikian pula dengan Yasiq ‘Ashri (Yasiq Modern), yaitu Undang Undang Dasar, KUHP, dan lain-lain, dimana hukum itu diambil dari orang-orang Nashrani (seperti orang Belanda dengan KUHPnya), dan ada juga dari Islam seperti dalam masalah pernikahan.

Jadi ternyata serupa, maka siapa saja yang merujuk pada Yasiq modern ini, maka iapun kafir dengan ijma kaum muslimin, sedangkan perujukan-perujukan ini telah dilakukan oleh pemerintah NKRI ini…!!


Mereka menganut sistem Demokrasi
Demokrasi berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (kedaulatan/kekuasaan).


Sistem ini merupakan penyerahan hak hukum atau kedaulatan kepada rakyat. Sistem perwakilan yang ada di dalamnya memberikan hak ketuhanan kepada wakil rakyat yang duduk di parlemen untuk membuat, menetapkan dan memutuskan hukum.

Demokrasi merupakan salah satu bentuk perampasan hak khusus Allah dalam At Tasyri’ (pembuatan, penetapan dan pemutusan hukum atau undang-undang). Hak ini adalah hak khusus Allah Subhanahu Wa Ta’ala , hak khusus rububiyyah dan uluhiyyah Allah, hak khusus yang seharusnya disandarkan oleh makhluk hanya kepada Allah. Akan tetapi demokrasi merampasnya dan justeru hak itu diberikan kepada makhluk. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

ﺇِﻥِ ﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﺇِﻻَّ ﻟِﻠّﻪِ ﺃَﻣَﺮَ ﺃَﻻَّ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﺍْ ﺇِﻻَّ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻢُ ﻭَﻟَـﻜِﻦَّ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

“Hak memutuskan hukum itu hanyalah khusus kepunyaan Allah. Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah dien yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

Firman-Nya: “Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia” , bermakna: Kalian diperintahkan untuk tidak menyandarkan hukum kecuali kepada Allah, karena Allah-lah yang berhak untuk membuat, menentukan, dan memutuskannya. Dan dalam ayat ini penyandaran hukum kepada Allah disebut ibadah. Sedangkan dalam demokrasi; hukum disandarkan kepada rakyat melalui wakil-wakilnya, maka demokrasi adalah sistem syirik, karena memalingkan ibadah penyandaran hukum kepada selain Allah.

Demokrasi adalah sistem syirik yang membangun pilar-pilarnya di atas sekularisme, di atas kebebasan; bebas meyakini apa saja walaupun pendapat syirik atau kekafiran sekalipun. Demokrasi tidak mewajibkan menusia untuk taat kepada ajaran Allah, tapi harus taat kepada kesepakatan rakyat, tatanan perundang-undangan yang berlaku, yang mana notabene adalah hukum buatan manusia.

Channel Video Terjemahan Rilisan Daulah islam

Daftar Isi Video Terjemahan
بسم لله الرحمن الرحيم
No [101] [Furat] Auman Singa
No [102] [Raqqah] Bata Bangunan
No [103] [Ninawa] Suasana Ramadhan
No [104] [Al Battar] Para Bandit
No [105] [Furat] Mereka Itulah Orang Orang Yang Jujur
No [106] [Shalahuddin] Luapan Api Serangan
No [107] [Furat] Dentingan Pedang
No [108] [Al Furqon] Agar Mereka Hidup Di Atas Kejelasan Yang Nyata
No [109] [Al Furqon] Sesungguhnya Rabb-mu Benar Benar Mengintai
No [110] [Al Furqon] Katakanlah Kepada Orang Orang Kafir, Kalian Pasti Akan Dikalahkan
No [111] [Al Khayr] Antara Dua Hijrah
No [112] [Al Furqon] Mereka Membunuh Dan Mereka Terbunuh
No [113] [Al Furqon] Wahai Kaum Kami, Penuhilah Seruan Orang Yang Menyeru Kepada Allah
No [114] [Al Furqon] Katakanlah “Matilah Kalian Dengan Kegeraman Kalian”
No [115] [Ninawa] Video Unggulan – Kalian Adalah Kaum Yang Mulia
No [116] [Mesir] Perangilah Musyrikin Semuanya
No [117] [Dijlah] Perang Keteguhan 4
No [118] [Ninawa] Bagian Tertentu
No [119] [Al Furat] Pasukan Pengorbanan
No [120] [Al Jazirah] Video Unggulan – Pedang Keberanian
No [121] [Homs] Penegakan Had Hirobah
No [122] [Jaiys Khalid Bin Walid] Perkara Yang Diwajibkan
No [123] [Al Khayr] Video Unggulan – Di Gerbang Pertempuran
No [124] [Hama] Sehingga Mereka Merubah Keadaan Mereka Sendiri
No [125] [Al Janub] Para Panyiram Jihad
No [126] [Al Furat] Perayaan Qurban Muhajirin Indonesia Di Bumi Khilafah
No [127] [Sinai] Penggentar Hati
No [128] [Kirkuk] Panah Muwahhidin
No [129] [Halab] Tetap Eksis Sampai Hari Kiamat
No [130] [Al Furqon] Penyembuh Dada Kaum Mukminin
No [131] [Sinai] Cahaya Syariat
No [132] [Al Furat] Bergembiralah Akan Hal Buruk Yang Menimpa Kalian
No [133] [Al Baidha] Pasukan Bantuan
No [134] [Ninawa] Video Unggulan – Iring Iringan Cahaya 2
No [135] [Raqqah] Video Unggulan – Maha Benar Janji Allah Dan Rasul-Nya
No [136] [Al Himmah] Sya’ban…Berbagai Keutamaan Dan Hukumnya
No [137] [Front Media Indonesia] Karena Mereka Bersaudara
No [138] [Raqqah] Bahkan Mereka Itu Hidup Di Sisi Rabb-Nya Dengan Mendapat Rezeki
No [139] [Al Battar] Dan Berjihadlah Di Jalan Allah Dengan Jihad Sebenarnya
No [140] [Al Furat] Pasukan Utusan
No [141] [Furat Media] Orang Yang Merugi
No [142] [Ninawa] Para Penggenggam Bara
No [143] [Barakah] Generasi Petempur
No [144] [Fatihin] Membongkar Kedok Sahawat
No [145] [Kirkuk] Balasan Para Pecundang
No [146] [Al I’tishom] Pesan Dari Seorang Mujahidin 1
No [147] [Al I’tishom] Pesan Dari Seorang Mujahidin 2
No [148] [Al I’tishom] Pesan Dari Seorang Mujahidin 3
No [149] [Al I’tishom] Pesan Dari Seorang Mujahidin 4
No [150] [Al I’tishom] Pesan Dari Seorang Mujahidin 5

No [151] [Al I’tishom] Penghancuran Tapal Batas Sykes-pycot
No [152] [Al I’tishom] Pembebasan Markas Divisi Militer 93
No [153] [Al I’tishom] Dari Dalam ‘Ayn Al-Islam (Kobane)
No [154] [Al I’tishom] Bergabunglah Bersama Kafilah
No [155] [Al I’tishom] Mengusir Pasukan Shafawi Dari Salahudin
No [156] [Al I’tishom] Tekad Besar Seorang Penentang
No [157] [Al Himmah] Ramadhan, Bulan Puasa dan Qiyamul Lail
No [158] [Al Khair] Sambutlah Seruan
No [159] [Al Khair] Para Penegak Syariat Allah
No [160] [Diyala] Negeri Persia Antara Dulu dan Kini
No [161] [Halab] Ketahanan Pangan
No [162] [Al Furqan] Dan Tatkala Orang-orang Beriman Melihat Pasukan Ahzab
No [163] [Shalahuddin] Strategi Perang
No [164] [Ninawa] Satu Dari Dua Kebaikan
No [165] [Al Furat] Cukuplah Allah Yang Akan Melindungimu Dari Mereka 3
No [166] [Raqqah] Mensucikan Jiwa
No [167] [Raqqah] Umat Yang Subur 1
No [168] [Al Furat] Umat Yang Satu
No [169] [Al Anbar] Pertempuran Para Singa
No [170] [Homs] Para Punggawa Pengorbanan
No [171] [Tarabulus] Tegakkanlah Dien
No [172] [Front Media Indonesia] Sebuah Nasehat
No [173] [Ninawa] Kapak Sang Khalil
No [174] [Halab] Kemudian Menjadi Sesalan Bagi Mereka, dan Mereka Akan Kalah
No [175] [Al Furat] Cukuplah Allah Yang Akan Melindungimu Dari Mereka 1
No [176] [Al Hayat] Jangan Kalian Tunda
No [177] [Al Hayat] Dari Dalam Khilafah
No [178] [Al Hayat] Kobaran Api Peperangan
No [179] [Al Furat] Sarang Mujahidin
No [180] [Al Anbar] Keluarkanlah Orang Orang Musyrik Dari Jazirah Arab
No [181] [Dimashq] Mu’askar Abu Ubaidah Bin Jaroh
No [182] [Al Himmah] Daulah Islam Kekal Dan Kuat
No [183] [Hims] Alangkah Baiknya Sekiranya Kaumku Mengetahui
No [184] [Al Jazirah] Risalah Untuk Negeri Haramain
No [185] [Al Barakah] Sungguh Hari Esok Bagi Yang Menantinya Adalah Dekat
No [186] [Dijlah] Mu’askar Pasukan Khusus Penyerang
No [187] [Raqqah] Negeri Jazirah Yang Tertawan
No [188] [Dijlah] Ini Adalah Janji Allah 2
No [189] [Al Jazirah] Rehabilitasi Junud Yang Terluka
No [190] [Hadramawt] Kepada Kalian Wahai Pemilik Tekad
No [191] [Thoifatu Manshuroh] Sebuah Kesaksian Atas Hakikat Daulah Khilafah Islamiyyah Yang Sebenarnya
No [192] [Dijlah] Rekam Jejak Pertempuran Junud Daulah Islam Di Wilayah Dijlah
No [193] [Homs] Perang Pengorbanan 3
No [194] [Al Furat] Naungan Pedang
No [195] [Hims] Mereka Akan Dikalahkan
No [196] [Sirte] Pengkultusan Ulama
No [197] [Raqqah] Debu Pertempuran
No [198] [Al Hayat] Dari Dalam Khilafah 3
No [199] [Al Khayr] Kembalikanlah Rasa Takut Ke Dalam Hati Yahudi
No [200] [Al Khayr] Kepada Anak Anak Yahudi

🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹

Catatan: untuk memudahkan pencarian materi, gunakan layanan search di telegram pada channel.
Caranya klik titik tiga pada kanan atas, klik “search “, isi kolom search dengan no urut saja dari materi yg hendak di cari, selanjutnya klik tanda 🔍 pada key board di kanan bawah. Pencarian otomatis akan dilakukan

Silahkan Menyebarkan Isi dari Channel Ini tanpa Izin dari Admin.
Semoga Allah Merahmati dan Membalas Apa yang Kita Lakukan Untuk Dien Ini…. Aamiin Yaa rabbal ‘Alamiin.

“Sesungguhnya Kebenaran Datang Hanya Dari Sisi Allah Ta’ala dan Kesalahan, Kekhilafan Datangnya Dari Diri Kita Sendiri”.

Jazakumullāhu Khairan Katsiran
Bārakallahu Fīkum.

Join & Sebarkan..

https://t.me/joinchat/AAAAAFV42dAcNmor4cGjiQ

Teori Konspirasi itu adalah kesyirikan

Tulisan ini diambil dari majalah Dabiq edisi 9 .

Artikel Dabiq 9

Teori Konspirasi : syirik

“Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (An-Nahl: 40)

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (Al-Baqarah: 117)

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar), ketika Dia berkata, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana, Mahateliti.” (Al-An’am: 73)

“Sesungguhnya urusanNya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.” (Yasin: 82)

“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata.” (Al-An’am: 59)

“Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya.” (Al-A’raf: 188)

“Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

“Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah, baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil dari itu atau yang lebih besar, semuanya (tertulis) dalam Kitab yang jelas.” (Saba’: 3)

“Ataukah di sisi mereka mempunyai (pengetahuan) tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Tetapi orang-orang yang kafir itu, justru merekalah yang terkena tipu daya.” (Ath-Thur: 41-42)

“Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.”” (Al-An’am: 50)

“Katakanlah (Muhammad), “Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Rabb ku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya.” Dan manusia itu memang sangat kikir.” (Al-Isra’: 100)

“Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabbmu ataukah mereka yang berkuasa?” (Ath-Thur: 37)

Kekuasaan, pengetahuan, dan kepemilikan mutlak, adalah sifat khusus milik Allah (Ta’ala). Ini selalu menjadi iman umat Islam sejak nenek moyang manusia –Adam (‘alaihis salam)– menapakkan kaki pertama kali di muka bumi dan akan terus senantiasa seperti itu hingga mukmin yang terakhir meninggal sesaat sebelum hari kiamat. Hanya Allah (Ta’ala) Yang tahu rincian terkecil dari semuanya, mengendalikan semua peristiwa, dan menguasai gerak setiap partikel atom.

Bahkan orang-orang kafir zaman jahiliyah di Semenanjung Arab dahulu tidak ragu bahwa hanya Allah Yang Memiliki kekuasaan, pengetahuan, dan kepemilikan mutlak, tetapi mereka melakukan syirik dalam banyak hal termasuk menghubungkan sebagian hal-hal ghaib kepada peramal, mempersembahkan tanaman dan ternak untuk berhala, dan menganggap bahwa berhala mereka memiliki pengaruh terhadap doa-doa Serangan penuh berkah terhadap menara kembar di New York yang mereka panjatkan.

Adapun meyakini bahwa berhala-berhala ini, para peramal dan raja-raja memiliki kekuasaan, pengetahuan, dan kepemilikan mutlak atau semi-mutlak, maka ini terlalu berlebihan bahkan fitrah rusak jahiliyin pun tidak mentolerirnya.

Sayangnya, sikap syirik ini (baik kecil atau besar) memasuki hati dan pikiran banyak orang yang dianggap pemimpin “Islam”, ulama, dan da’i –dalam meniru kaum nasionalis Arab sebelum mereka– di mana mereka mulai menggambarkan musuh-musuh Islam dengan sifat-sifat yang mendekati sifat rububiyah (Allah).

Bagi mereka, orang-orang kafir memiliki pengetahuan, kepemilikan dan kekua

saan yang semi-mutlak untuk membuat rencana dan menjalankannya sesuai dengan keinginan mereka. Hampir seolah-olah mereka memiliki kemampuan untuk mewujudkan sesuatu cukup dengan kata “kun” (jadilah)! Keburukan mereka ini menjadi sangat jelas dalam isu-isu yang berkaitan dengan jihad.

Jika seseorang ingin melakukan jihad, para pemimpin ini akan memperingatkan bahwa jihad yang sekarang adalah konspirasi untuk membunuh para pemuda Muslim yang tulus, sehingga meninggalkan negeri-negeri Muslim dan merbiarkannya jatuh ke tangan orang-orang sekuler. Jika seseorang ingin bergabung dengan jama’ah jihad, mereka akan memperingatkan bahwa itu adalah buatan kuffar demi membantu dalam mencapai kepentingan orang kafir. Jika operasi jihad –seperti peristiwa 11 September– dilakukan terhadap orang-orang kafir, mereka akan mengklaim bahwa operasi ini adalah konspirasi oleh kuffar untuk membenarkan agresi mereka terhadap kaum Muslimin.

Jika seorang pemimpin mujahid mati syahid, mereka akan mengatakan bahwa orang-orang kafir yang menggunakan dia sekarang perlu untuk menyingkirkannya karena khawatir dia memutuskan untuk keluar dan mengekspos “konspirasi” yang dulu dia menjadi bagian darinya. Jika para mujahidin membebaskan wilayah yang diduduki oleh orang-orang kafir, mereka akan mengatakan bahwa orang-orang kafir sengaja membiarkan mereka untuk melakukannya karena kepentingan kafir mengharuskan perang berkepanjangan. Jika para mujahidin mengumumkan sebuah negara Islam, mereka akan mengatakan bahwa orang-orang kafir memfasilitasi seperti itu supaya menjadi pembenaran agar mereka bisa terus menerus ikut campur tangan terhadap urusan kaum Muslimin.

Dan, menurut teori ini, hampir semua peristiwa di dunia ini entah bagaimana pasti terkait kembali kepada kaum kuffar, badan intelijen, penelitian, teknologi, dan konspirator mereka! Teori konspirasi telah sedemikian menjadi alasan untuk meninggalkan jihad, untuk kagum berlebihan kepada orang-orang kafir, untuk meninggalkan kewajiban bai’at, dan untuk mengejar dunia, semua dalam nama politik “kesadaran”.

Salah satu aspek terburuk dari teori ini adalah bahwa mereka tidak membutuhkan adanya bukti, hanya sekedar “deduksi” bodoh. Dan lebih buruk lagi, banyak dari mereka yang mengklaim konspirasi ini sendiri terlibat dalam konspirasi kafir yang nyata! Anda melihat Sahwah Irak berjuang bersama Tentara Irak –yang didukung secara terbuka oleh Iran– sementara mereka mengklaim bahwa Mujahidin adalah agen Iran!

Anda lihat faksi Shahawat secara terbuka menyerahkan wilayah kepada rezim Nushairi, sementara mereka mengklaim bahwa mujahidin bekerja sama dengan rezim Nushairi! Anda melihat faksi Shahawat yang lain secara terbuka dan umum bertemu dengan Qatar, Turki, Alu Salul, dan Amerika, dan mendiskusikan rencana mereka untuk bekerjasama melawan Daulah Islam, sementara mereka mengklaim bahwa Muhajirin dan Ansar adalah sekutu dan agen negara asing! Anda melihat Koalisi Nasional Suriah (SNC) mempertimbangkan untuk melakukan pertemuan di Jenewa dengan rezim Nushairi, sementara mengklaim bahwa Daulah Islam berjuang untuk melayani kepentingan rezim!

Tidak ada bukti yang diperlukan untuk menyimpulkan sebuah konspirasi, hanya keinginan dan kebodohan.

Adapun ketika kerjasama dengan pihak kafir untuk melawan umat Islam terlihat jelas bagi publik, tiba-tiba itu menjadi “maslahah” (“kebaikan” yang lebih besar). Bekerja sama dengan Amerika untuk melawan Daulah Islam adalah “maslahat”, dan bukan konspirasi kufur dan pengkhianatan! Bekerja sama dengan faksi-faksi yang didukung oleh para thaghut dan Tentara Salib untuk melawan Daulah Islam adalah “maslahat”, dan bukan penyimpangan atau kemurtadan! Bergerak di bawah perlindungan Tentara Salib dan pesawat orang-orang murtad untuk melawan Daulah Islam adalah “maslahat”, bukan gerbang menuju lapisan terdalam api neraka! Menggunakan kata-kata “hukum perdata,” “negara sipil,” dan “Penentuan nasib sendiri” adalah “maslahat” dan bukan mengakui tuntutan Tentara Salib dan para pendukung murtad!

Kepercayaan ekstrim terhadap teori konspirasi bervariasi antara syirik ringan dan

syirik besar tergantung pada derajat kekuasaan, pengetahuan, dan kepemilikan yang dikaitkan oleh orang yang mempercayainya kepada orang-orang kafir.

Jika seseorang menafsirkan kembali sejarah kaum Muslimin sesuai dengan teori konspirasi orang-orang ini, dia akan keluar dengan membawa kesesatan terpendam. Seseorang hanya perlu bertanya kepada teoritis ini, apakah kaum Muslimin dahulu mampu membangun negara dan memperluasnya hanya dengan persetujuan dari kerajaan Romawi dan Persia? Apakah kaum Muslimin sebagai agen dari Roma atau Persia selama perang mereka terhadap dua kerajaan musuh itu? Adakah Persia berpura-pura dalam perang mereka melawan Romawi sementara secara diam-diam menjadi sekutu mereka? Apakah umat Islam berpura-pura dalam pertempuran mereka melawan salah satu dari dua kerajaan lawan? Apakah para nabi palsu dan pemimpin yang menolak membayar zakat diam-diam adalah non-Arab yang termasuk ras asing? Jawaban atas semua pertanyaan ini tentu saja tidak. Apakah dunia berubah sedemikian besar bagi konspirasi-konspirasi besar ini untuk mengembangkan dan menundukkan dunia? Jawabannya adalah tidak.

“Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (Faathir : 43)

Terhadap para pakar teori konspirasi ini seseorang perlu menanyakan, bagaimana ayat-ayat berikut dipahami menurut teori konspirasi ini?

“Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecahbelah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” (Al-Hasyr : 14). Ayat ini menjelaskan bahwa kaum kafir bisa saja terlihat bersatu sedangkan hati mereka sebenarnya penuh dengan permusuhan dan kebencian satu sama lain. Dan kebencian ini terkadang terwujud dalam perbuatan mereka. Bagaimana mungkin konspirasi besar ini dilakukan jika para anggotanya berpecah-belah?

“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui (yaitu musyrikin), mengatakan seperti ucapan mereka…” (Al-Baqarah : 113). Ayat ini menjelaskan bahwa permusuhan dan kebencian di antara para pengikut agama yang berbeda tersebut terlihat dari ucapan mereka.

“Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara Ahli Kitab, “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu”. Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan.” (Al-Hasyr : 11-12). Ayat ini menjelaskan bahwa kemunafikan para sekutu kaum kafir terlalu sulit untuk dipercaya akan melaksanakan perintah kaum kafir tersebut. Jadi bagaimana mungkin konspirasi besar mereka akan tetap utuh selama berpuluh-puluh tahun dan berabad-abad?

“Dan di antara orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai Hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan.” (Al-Maa’idah : 14). Ayat ini menjelaskan kebencian kuat para pengikut berbagai kelompok Nasrani di antara satu dengan yang lainnya.

“Dan Al-Qur’an yang

diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka (Yahudi). Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai Hari Kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya.” (Al-Maa-idah : 64). Ayat ini menjelaskan besarnya kebencian pengikut dari berbagai kelompok Yahudi satu dengan yang lainnya.

“Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al- Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.” (Ali ‘Imran : 19). “Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah-belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka.” (Asy-Syuura : 14). Kedua ayat ini menjelaskan perpecahahan dan perselisihan Yahudi dan Nasrani serta permusuhan yang ada di antara kedua agama itu beserta sekte-sektenya.

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman, “Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat…”” (Ali ‘Imran : 55). Ibnu Zaid (ra?imahullah) berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Tidak ada suatu negeri di mana orang Nasrani mendiaminya, baik di timur maupun di barat, kecuali dia ada di atas Yahudi. Orang-orang Yahudi dihinakan di semua negeri.” (Tafsir ath-Thabari)

Dan hal ini terlepas dari kekafiran orang-orang Nasrani. Akan tetapi, karena kaum kafir Nasrani tidak melaknat Nabi ‘Isa (‘alaihis-salam) ataupun menuduh ibunya yang suci berdosa, maka hal tersebut menjadikan mereka menghinakan orang-orang Yahudi yang melaknat ‘Isa dan memfitnah Maryam.

“Mereka (orang-orang Yahudi) diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan.” (Ali ‘Imran : 112). Al-Hasan (ra?imahullah) berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Umat ini mendahului orang-orang Yahudi sementara orang-orang Majusi mengambil jizyah dari orangorang Yahudi.” (Tafsir ath-Thabari)

Ayat ini menjelaskan bahwa Yahudi terkutuk selalu dalam kehinaan dan ketundukan. Negara Yahudi sendiri didirikan bagi orang-orang Yahudi semata-mata oleh Tentara Salib Inggris. Dan melalui hubungan YahudiSalibis dan kemunduran diri Arab murtad sehingga orang-orang Yahudi mendapat penguasaan atas para thaghut Arab.

Oleh sebab itu, setelah membahas ini, hal-hal berikut harus dipahami ketika mengamati sejarah dan peristiwa yang sedang berlangsung.

1) Ilmu, kekuatan, dan kepemilikan orang-orang kafir adalah lemah dan terbatas. Mereka tidak melihat semuanya, mendengar semuanya, mengetahui semuanya, menguasai semuanya, dan memiliki semuanya, sebagaimana beberapa orang mencoba menggambarkan keadaan mereka seperti itu. Barangsiapa yang meyakininya, maka ia telah terjatuh ke dalam syirik.

2) Satu-satunya konspirasi lama yang disebutkan di dalam Al-Qur’an ialah Iblis terkutuk. Allah (Ta’ala) berfirman mengenai tipu dayanya, “Sesungguhnya tipu daya Syaitan itu lemah” (An-Nisaa’ : 76). Jadi, berdasarkan ayat ini, tipu daya sekutu-sekutu Syaitan bahkan lebih lemah. Justru mereka menjadi objek tipu daya Allah.

3) Orang-orang kafir berpecah-belah, diliputi permusuhan dan kebencian satu sama lain, melakukan kekerasan di antara sesamanya, menghinakan dan merendahkan sesamanya, namun mereka bersatu melawan kaum Muslim, musuh bersama mereka. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai sekutu. Sebahagian mereka menjadi sekutu bagi sebahagian yang lain” (Al-Maa-idah : 51). “Adapun orangorang yang kafir, sebagian mereka menjadi wali (sekutu, pelindung) bagi sebagian yang lain” (Al-Anfaal : 73). Akan tetapi, persatuan kaum kafir lemah dan dangkal. Mereka kerap berpecah setelah bersatu dan mengkhianati satu sama lain.

4) Orang-orang kafir tidak diragukan lagi memang melakukan konspirasi, namun berbagai konspirasi ini lemah disebabkan

hubungan yang lemah di antara sesama mereka, ketidakpercayaan dan kepengecutan sekutu dan agen mereka yang munafik, ketakutan mereka terhadap kaum Muslimin lebih daripada ketakutan mereka terhadap Allah, serta ketakutan mereka akan mati dan kecintaan mereka akan dunia.

5) Konspirasi mereka yang sebenarnya selalu berdasarkan bukti dan tidak didasarkan pada deduksi yang tidak ada dukungannya –”sebagai terkaan terhadap barang yang gaib” (Al-Kahfi : 22). “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikut persangkaan sedang sesungguhnya persangkaa itu tiada berfaidah sedikit pun terhadap kebenaran” (An-Najm : 28).

Musuh bersama dan kepentingan bersama tidak mengharuskan bahwa mujahidin adalah agen salah satu dari dua kubu kafir (terutama ketika mujahidin memerangi kedua kubu tersebut dan diperangi oleh keduanya). Mujahidin yang berperang melawan Rusia bukanlah agen Tentara Salib Amerika, sebagaimana halnya kaum Muslimin berperang melawan Kekaisaran Persia tidak berarti bahwa kaum Muslimin adalah agen Romawi!

Begitu juga ketika seseorang bercermin kepada sejarah modern, berbagai macam orang murtad yang mengobarkan perang nasionalisme selalu mempunyai hubungan terbuka dengan sekutu-sekutu kafir mereka. Konspirasi yang nyata bukanlah rahasia yang disembunyikan dari manusia. Secara terbuka Shahawat Irak bertemu Bush, Rezim Irak, dan para pemimpin Rafidhah. Faksi-faksi Shahawat “Islami” Irak secara terbuka akan berperang bersama suku-suku Shahawat melawan Daulah Islam dan akan memiliki perwakilan politik umum di bawah naungan para thaghut regional. Shahawat Suriah secara terbuka bertemu di Qatar, Turki, dan Arab “Saudi”. Orang-orang Amerika secara terbuka membahas dukungannya atas Shahawat Suriah dan dukungan diberikan kepada faksi-faksi “Islam”-nya oleh sekutu-sekutu Amerika –Qatar, Turki, dan Alu-Salul. Dahulu para agen “Revolusi Arab” secara terbuka bertemu di Eropa, Mesir, Jazirah Arab, Syam, dan Irak dengan para pejabat salib Inggris.

6) Konspirasi-konspirasi besar mengandung begitu banyak faktor yang hanya mampu dikuasai oleh Allah (Ta’ala). Sebagai contoh, teori konspirasi besar 11 September yang diklaim dijalankan oleh Amerika sendiri. Maka berapa banyakkah anggota pemerintahan Tentara Salib yang harus selalu diawasi untuk mencegah agar berita mengenai operasi tersebut tersebar sebelum pelaksanaannya? Berapa banyak mulut yang terlibat harus ditutup di seluruh dunia agar konspirasi semacam ini tetap tidak terekspos setelah kejadian? Berapa banyak hal-hal lain yang harus dijamin untuk memelihara konspirasi mereka? Pandangan berlebihan semacam ini terhadap peristiwa tersebut hanya datang dari harga sebuah tauhid. Apakah Amerika mampu mengontrol begitu banyak faktor? Serangan tersebut terjadi atas Amerika itu sendiri, dan berdasarkan para pakar teori konspirasi, ia dilaksanakan oleh orang-orang Amerika! Berapa banyak pejabat Amerika merasa diri mereka telah melakukan “pengkhianatan” dengan mengetahui “konspirasi” dan tetap tutup mulut? Realita hanya ada pada satu hal yang jelas –kebenaran sebenarnya– dan itu adalah para mujahidin di bawah kepemimpinan Syaikh Usamah (ra?imahullah) yang melaksanakan serangan yang penuh berkah dan berakibat pada terhinanya Amerika dalam suatu bentuk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

7) Tujuan dari teori konspirasi ialah membesar-besarkan kekuatan orang-orang kafir sehingga kaum Hasil serangan penuh berkah pada menara kembar Muslimin terlemahkan oleh analisis atas peristiwa yang sedang berlangsung dan akhirnya, ketakutan mereka kepada orang-orang kafir lebih besar daripada ketakutan mereka kepada Allah (Ta’ala). Ini adalah sebuah metode yang akan merusak ketawakkalan seorang Muslim kepada Rabbnya. Setiap saat, kita akan mendapati dia diliputi oleh ayat-ayat berikut: “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka ses

ungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah” (An-Nisaa’ : 138-139).

Berdasarkan keterangan ini, seseorang seharusnya menyadari perbedaan antara berbagai macam kelompok musuh kafir yang membentuk aliansi yang nyata –seperti koalisi Salib-Shafawi-Nushairiyah– untuk mengobarkan perang melawan Daulah Islam sehingga kepentingan berama kafir ini bisa mereka raih, dan antara keyakinan bahwa orang-orang Nasrani, Rafidhah, Yahudi, dan murtad, semuanya merupakan anggota terselubung yang berasal dari kelompok rahasia yang sama, kelompok politik bawah tanah, atau teori konspirasi raksasa yang kesemuanya memuji satu sama lain dan menyembunyikan permusuhan. Semoga Allah mengungkapkan konspirasi nyata orang-orang kafir dan melenyapkan teori konspirasi syirik dari hati kita.

🏴 *Bersegera Menyambut Imam Mahdi Walau Merangkak Diatas Salju*☝

🏴 *Bersegera Menyambut Imam Mahdi Walau Merangkak Diatas Salju*☝🏻

_Oleh: Furqon_
*(Mata-Media.net)*
http://bit.ly/KlikGabungBcRDJ

Pada akhir zaman nanti, akan ada seorang pemimpin bagi umat Islam yang membawa kesejahteraan, keamanan, kemenangan dan kejayaan bagi Islam dan kaum Muslimin. Dia adalah *Khalifah Al-Mahdi atau Imam Mahdi.* Apabila Al-Mahdi telah muncul, maka setiap Muslim *diwajibkan* untuk segera berbaiat kepadanya.

Bagaimanapun situasinya, setiap Muslim mesti berusaha untuk memastikan dirinya bergabung ke dalam pasukan yang dipimpin oleh Imam Mahdi. Di bawah komando beliaulah umat Islam akan diajak bersama meninggalkan babak keempat penuh kedzaliman ini menuju tegaknya babak kelima penuh keadilan kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

*تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ*
_“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah Ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah Ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) diam”. (HR. Ahmad, Shahih)_

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, jika kita rinci, maka hadits diatas menunjukan bahwa Akhir Zaman akan melalui *5 masa atau fase,* yakni:

*1. Masa kenabian (yakni umat Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad)*

*2. Masa Khilafah ‘Ala Minhajin-Nubuwwah (masa Khulafa’ur-Rasyidin, Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhum)*

*3. Masa kerajaan yang menggigit (Mulkan Adhon)*

*4. Masa kerajaan diktator (Mulkan Jabariyyah), seperti pada zaman dan masa sekarang ini*

*5. Masa kembali pada Khilafah ‘Ala Minhajin-Nubuwwah*

Menurut beberapa riwayat yang kuat, pada saat atau masa Khilafah ‘Ala Minhajin-Nubuwwah, umat Islam terlebih dahulu akan dipimpin oleh seorang Khalifah, yang mana tugas Khalifah ini adalah untuk menyiapkan sebuah pasukan yang nantinya menjadi pasukan akhir zaman dibawah panji Imam Mahdi. Setelah itu, Khalifah dan pasukannya ini akan bersama-sama berbaiat kepada Imam Mahdi di kota Makkah. Oleh karena itu, Rasulullah juga menyeru umat Islam untuk berbaiat kepada Imam Mahdi, walaupun dengan merangkak diatas salju. Rasulullah bersabda,

*فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ*

_“Ketika kalian melihatnya, maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak diatas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi”. (HR Ibnu Majah 4074)_

Dalam hadits lainnya dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

*يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمُ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لاَ يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلاً لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ*

_“Ada tiga (3) orang yang akan saling membunuh di dekat harta simpanan kalian (manusia). Mereka semua putra khalifah. Kemudian simpanan itu tidak dikuasai salah satu dari mereka. Hingga muncul bendera-bendera hitam dari arah timur, lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang tidak pernah dilakukan oleh satu kaum pun”._

Kata Tsauban: “lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak aku hafal, kemudian beliau bersabda,

*فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ؛ فَبَايِعُوْهُ، وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ؛ فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ اَلْمَهْدِيُّ*

_“Jika kalian melihatnya, maka bai’atlah dia! Walaupun dengan merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah Khalifah Allah Al-Mahdi”. (HR. Ibn Majah 4222, Hakim dalam Al-Mustadrak 4/463, dishahihkan Hakim dan disetujui Adz-Dzahabi. Dan sanadnya dinilai kuat dan shahih oleh Ibnu Katsir)_

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan hadits ini,

والمقصود أن المهدي الممدوح الموعود بوجوده في آخر الزمان يكون أصل ظهوره وخروجه من ناحية المشرق، ويبايع له عند البيت، كما دل على ذلك بعض الأحاديث

Maksud hadits, bahwa Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu kehadirannya di akhir zaman, munculnya dari arah timur, dan beliau di baiat di sisi Ka’bah. Sebagaimana dinyatakan dalam beberapa hadits.

Akan tetapi, sebagian manusia karena ketidaktahuannya atau karena peremehan terhadap suatu masalah, mereka lalu berkata; *”NANTI BILA IMAM MAHDI SUDAH KELUAR BARU KITA BERBAIAT KEPADANYA.”*

Ketahuilah para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, sesungguhnya perintah berbaiat kepada pasukan dengan bendera hitamnya atau kepada Imam Mahdi itu bukan perkara mudah seperti yang dibayangkan oleh manusia. Maka dari itu, Rasulullah telah bersabda dengan suatu penekanan yang berat,

*فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلْيَأْتِهِمْ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ*

_“Barangsiapa dari kalian mendapatinya (Imam Mahdi), maka berbaiatlah kepadanya walau dalam keadaan merangkak diatas salju”._

Merangkak diatas salju bukan perkara mudah dan bukan andai-andai, karena sebelumnya telah didahului dengan adanya kalimat perintah untuk berbaiat. Kalimat merangkak diatas salju itu sebagai gambaran betapa beratnya perjalanan menuju Imam Mahdi dan pasukannya.

Didalam hadits disebutkan pasukan Imam Mahdi adalah dari BANI ASFAR (Bule) dan BANI ISHAQ (Khurosan, yang meliputi wilayah Iran, Afghanistan, Pakistan dan sekitarnya) dan BANI TAMIM (Yaman) dan PENDUDUK IRAQ serta PENDUDUK SYAM.

Lalu kemanakah orang Arab atau Jazirah Arab?? Pada saat itu, kebanyakan orang Arab TELAH MURTAD seperti yang dijelaskan di dalam surat Al-Maa’idah ayat 54 dan surat Muhammad ayat 38. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ*

_“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Maa’idah 5 : 54)_

Lalu kemanakah bangsa Al-Jawi, Al-Bugisi, Al-Indonesiyi atau Nusantara ini??? Wallahu a’lam… Bisa jadi mereka telah ditenggelamkan ke dalam bumi atau mereka kembali dengan agama animismenya. Sebab pada saat itu, iman akan kembali berkumpul di Kota Madinah dan Makkah, kemudian keimanan menuju ke bumi Syam.

*إِنَّ السَّاعَةَ لَنْ تَقُومَ حَتَّـى تَرَوْا عَشْرَ آيَاتٍ… (فَذَكَرَ مِنْهَا:) وَثَلاَثَةُ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْـمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ.*

_Sesungguhnya Kiamat tidak akan tegak hingga kalian melihat sepuluh (10) tanda… (lalu beliau menyebutkan, diantaranya) Dan tiga (3) penenggelaman ke dalam bumi, penenggelaman di sebelah timur, penenggelaman di sebelah barat, dan penenggelaman di Jazirah Arab._

Penenggelaman di Jazirah Arab adalah ketika datangnya pasukan dari Syam yang hendak memerangi Imam Mahdi. Sedangkan penenggelaman bumi di bagian timur dan bagian barat, itu terjadi sebagai tanda keluarnya Imam Mahdi. Namun Allah Maha Tahu akan yang ghoib. Allahu a’lam..

*إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا*

_“Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah seperti seekor ular yang kembali ke lubang sarangnya”. (Muttafaqun ‘alaihi)_

*فَقَالَ عَلَيْكَ بِالشَّامِ فَإِنَّهَا خِيرَةُ اللَّهِ مِنْ أَرْضِهِ يَجْتَبِي إِلَيْهَا خِيرَتَهُ مِنْ عِبَادِهِ فَأَمَّا إِنْ أَبَيْتُمْ فَعَلَيْكُمْ بِيَمَنِكُمْ*

_Beliau berkata: Hendaknya kalian menetap di Syam karena sesungguhnya Syam adalah bumi Allah yang paling terpilih, Allah memilih hamba-hamba pilihannya menuju kepadanya. Adapun jika kalian menolak maka hendaknya kalian menetap di Yaman._

Oleh karena itu, jika kita sebagai umat Islam yang mengaku beriman benar-benar ingin menjadi umat dan pasukannya Imam Mahdi, maka sedari dini persiapkan bekal yang dibutuhkan, dan berusahalah sekuat tenaga agar bisa sampai ke bumi Syam atau ke Kota Makkah, karena disanalah Imam Mahdi akan di baiat. Wallahu ‘alam.. **

*RDJ*
_● Islamic News Aggregator ●_

_⏬ Untuk Bergabung Dalam Layanan Broadcast Dakwah RDJ klik link berikut:_
http://bit.ly/KlikGabungBcRDJ

🌏☝🏻
_Raih Amal Shalih, Sebarkan…_

*جزاك اللهُ خيرًا*
*بَارَكَ اللّهُ فِيْك*

Usai Diciduk & Diperiksa Densus 88, Warga Klaten & Makassar Meninggal Dunia

#DensusMembunuhLagi
*Usai Diciduk & Diperiksa Densus 88, Warga Klaten & Makassar Meninggal Dunia*

http://bit.ly/KlikGabungBcRDJ
*KLATEN | RDJ INA*▪️Kejadian yang menimpa Siyono warga Klaten, Jawa Tengah (Jateng) dan Muh. Jefri warga Indramayu, Jawa Barat (Jabar) yang meninggal dunia seusai diciduk dan diperiksa Densus 88 Antiteror Mabes Polri kembali terjadi dan dialami oleh dua (2) warga negara Indonesia (WNI) lainnya.

Warga Klaten berinisial YW alias Khodijah (34 tahun) dan warga Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) berinisial AH alias Abu Abdullah meninggal dunia hanya berselang beberapa hari setelah diciduk pasukan Polri berlogo Burung Hantu itu.

Untuk warga Klaten berinisial YW, Densus 88 menciduknya di Dusun Desan Wetan, Desa Joton, Jogonalan, Klaten pada Kamis, 14 Maret 2019 lalu. YM meninggal dunia hanya 4 hari setelah diciduk dan diperiksa Densus 88. Sudah menjadi rahasia umum bahwa orang-orang yang diciduk Densus 88 pasti mengalami kekerasan saat diciduk dan penyiksaan saat diinterogasi.

Kabar kematian YW tersebut disampaikan oleh Ketua RW 2, Dusun Desan Wetan, Desa Joton, Jogonalan, Klaten, Mujiono. Dia bersama ketua RT setempat menjadi saksi yang melihat kondisi YW setelah meninggal.

“Meninggalnya Senin (18/3/2019) siang, sorenya saya bersama Pak RT diajak polisi ke Jakarta. Dulu memang sudah dikasih tahu, sewaktu-waktu akan menjadi saksi. Tapi saya tidak tahu kalau meninggal,” kata Mujiono pada Rabu (20/3/2019).

“Pemakaman dilakukan di Tanah Kusir hari Selasa (19/3/2019). Dimakamkan di sana karena khawatir kalau ditolak di sini karena diduga teroris. Padahal sebenarnya di kampung sini tidak masalah,” pungkasnya.

Mabes Polri beralasan, YW meninggal karena sakit lambung. Namun ketika ada kabar bahwa keluarga menyatakan jika YW tidak punya riwayat penyakit, beberapa selang kemudian polisi meralat statemennya. Polri menyebut jika YW diduga bunuh diri dengan mengonsumsi sesuatu yang membuat dirinya keracunan.

“Diduga dia ingin bunuh diri, kemungkinan itu besar. Masih didalami apa bentuk zat kimia dalam tubuh korban. Masih diselidiki apa yang dia minum dan lain-lain,” kata Karo Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Rabu (20/3/2019).

Sementara itu, untuk warga Makassar berinisial AH alias Abu Abdullah, tim Densus 88 menangkapnya di wilayah Sudiang, Kota Makassar pada Jumat (15/3/2019). Selain menangkap AH, tim Densus juga menciduk 2 orang lainnya berinisial AT dan AM.

Juru bicara Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulsel membenarkan bahwa Densus 88 menciduk 3 orang di wilayah Sudiang Raya, kota Makassar selepas sholat Jumat kemarin.

Namun pada hari Ahad (17/3/2019), Abu Abdullah dikabarkan juga meninggal dunia di Mapolda Sulsel saat diperiksa dan diinterogasi oleh Densus 88.

“Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Telah meninggal saudara kami abu abdullah di Mapolda Sul–Sel semoga Allah menerima nya. Mohon doa nya ikhwah. #Update. BantuShare,” demikian informasi yang diterima redaksi Mata-Media.Net pada Senin (18/3/2019).

Kabar soal kematian YW dan Abu Abdullah tersebut mendapat perhatian dan komentar dari para netizen di media sosial (medsos). Netizen mengaku tidak percaya dengan keterangan polisi soal kematian YW dan Abu Abdullah.

Ketidakpercayaan netizen dan masyarakat atas alasan polisi soal kematian YW dan Abu Abdullah mengacu soal kedustaan dan kebohongan Polri saat menjelaskan kematian Siyono Klaten dan Jefri alias Abu Umar Indramayu.

Saat itu, Mabes Polri beralasan jika Siyono dan Jefri meninggal karena punya penyakit. Akan tetapi setelah PP Muhammadiyah dan Komnas HAM melakukan investigasi, didapati fakta bahwa keduanya meninggal setelah mendapatkan sejumlah luka dan penyiksaan dari benda tumpul saat bersama Densus 88. **

Sebarkan agar sampai pada #PPMuhammadiyah
#KomnasHAM

Serukan (#) tagar:
#SiyonoJilid2
#DensusMembunuhLagi
#BubarkanDensus88
#DensusMusuhIslam

*RDJ*
_● Islamic News Aggregator ●_

_⏬ Untuk Bergabung Dalam Layanan Broadcast Dakwah RDJ klik link berikut:_
http://bit.ly/KlikGabungBcRDJ
http://bit.ly/KlikGabungBcRDJ

🌏☝🏻
_Raih Amal Shalih, Sebarkan…_

*جزاك اللهُ خيرًا*
*بَارَكَ اللّهُ فِيْك*